Kramat Edisi #2: Pengkhianatan Kaum Cendekiawan dan Intelektual

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Dalam sejarah penggunaan kata intelektual, terdapat kisah tentang dipecatnya seseorang dari dinas ketentaraan di Perancis, yaitu Alfred Dreyfuse, karena dianggap melakukan sabotase.

Loading...

Para pendukung Dreyfuse kemudian menamai diri sebagai intelektual, yaitu kelompok yang membela orang-orang yang tersingkirkan secara sistematik oleh kekuasaan.

Hal tersebut muncul dalam Kajian Rutin Alternatif Malam Sabtuan (Kramat) Edisi #2 bertema “Pengkhianatan Kaum Cendekiawan dan Intelektual” yang digelar di Cafe UISU, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Jumat (15/3/2019) malam.

“Para pendukung Dreyfuse membangun koalisi, diprakarsai oleh seorang penulis bernama Emile Zola. Dia menulis artikel ke salah satu surat kabar kecil di kota Paris. Hasil tulisannya kemudian dikenal sebagai Manifesto Intelektual,” kata salah seorang pembicara, budayawan muda bernama Awang Aditya.

Awang Aditya a.k.a Nanang (tengah)

Istilah “pengkhianatan kaum intelektual” kemudian muncul dalam buku yang ditulis oleh Julien Benda. Dalam buku tersebut, Julien Benda menjabarkan bahwa telah terjadi pergeseran tentang bagaimana seharusnya intelektual berperan.

“Jadi kalau di awal, intelektual adalah yang membantu orang-orang yang terpinggirkan secara sistemik. Pada saat masa Julien Benda malah sebaliknya, intelektual mendukung kekuasaan dan menghantam kelompok marjinal,” jelas pria yang akrab disapa Nanang itu.

Sedangkan cendikiawan, ungkap Nanang, berasal dari kata chanakya, yang ditulis oleh Athasastra. Athasastra adalah sosok yang lebih dulu mengajar dibanding Sokrates.

“Soal cendikiawan, ada Kyai di Jawa Timur tahun 1940-an yang mengatakan, ‘cendikiawan itu cendek nek awan’. Artinya pendek kalau siang, bisa dianggap sanepa (suatu gabungan kata sifat dan kata benda yang membentuk makna kiasan). Maknanya, siang menunduk layaknya padi mengamati situasi di sekelilingnya, malam dia berpanjang memahami dan memikirkan apa yang telah diamatinya tersebut,” tandasnya.

Sementara menurut pembicara lainnya, Irawanto yang didapuk sebagai aktivis buruh dalam kajian malam Sabtuan itu mengatakan bahwa kaum intelektual lebih dikenali sebagai orang-orang yang menghabiskan hidupnya di dunia kerja otak, menggali ilmu pengetahuan.

“Ada intelektual yang hidup di berbagai bidang ilmu. Cara mereka untuk memahami sesuatu juga berbeda, yang objeknya serupa, yaitu masyarakat,” katanya.

Irawanto (kiri)

Pria yang akrab disapa Ira itu menilai, ungkapan “pengkhianatan kaum intelektual” tersebut muncul karena terjadinya ketimpangan antara orang-orang yang berhasil terpromosikan sebagai intelektual dengan yang tidak.

“Pengkhianatan kaum intelektual itu bagi saya adalah terminologi yang digunakan karena yang disebut sebagai intelektual yang bisa memiliki panggung. Sementara orang-orang yang bekerja di bawahnya, yang lebih memberi efek secara sosial tidak didapuk sebagai intelektual,” jelas Ira.

Selanjutnya, Ira berpesan, untuk mengembalikan intelektual ke khittahnya, masyarakat harus mulai menyisihkan cara hidup “saling membunuh”.

“Saat ini kita dalam kondisi kehidupan yang dididik untuk ‘saling membunuh’ untuk bertahan hidup. Di dunia pendidikan yang dikenal hanya juara 1 dan umum, dunia kita hanya tentang bagaimana menggunakan kecerdasan untuk mengalahkan yang lain. Kita sebenarnya bisa hidup tanpa kompetisi, tanpa harus saling mengalahkan,” tandasnya.

Kajian yang dimulai pukul 21.00 hingga 23.00 WIB itu dihadiri oleh lebih dari 50 orang yang terdiri dari lintas aktivitas dan profesi, serta dimoderatori oleh aktivis mahasiswa Ridho Khairi.

Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook