Breaking News – Demo #SaveBabi Padati Jalan Kota Medan

Medan, PUBLIKA.CO.ID – Gerakan #SaveBabi yang dikomandoi oleh Boasa Simanjuntak tampaknya bukan gerakan biasa. Terbukti hari ini, mulai pagi sekitar jam 7.30 WIB,  tim Publika.co.id memantau aksi turun ke jalan dengan tema #SaveBabi diikuti oleh banyak pendukung aksi. (Senin, 10/2)

Loading...

Ada beberapa spanduk panjang yang bertuliskan “Gerakan Aksi Damai #SaveBabi, Tolak Pemusnahan Babi di Sumatera Utara” dibawa oleh peserta aksi unjuk rasa.

Baca juga:  Ditegur KPI karena 'Mesra' dengan Bintang Tamu, Hotman Paris 'Semprot' Balik

Aksi unjuk rasa #SaveBabi hari ini digelar di tiga tempat secara maraton. Pertama di lapangan merdeka, kemudian di depan kantor DPRD Sumut lalu lanjut ke kantor Gubernur Sumatera Utara.

Sebelumnya, ketua gerakan #SaveBabi, Boasa Simanjuntak mengungkapkan, masyarakat Batak dan pecinta babi di Sumut dengan tegas menolak rencana itu karena babi memiliki kedaulatan tersendiri dalam hidup orang Batak, terutama dalam urusan adat.

Baca juga:  Giliran Kerajaan Warteg Bahagia Muncul di Depok, Jawa Barat

“Dalam urusan adat, babi tidak bisa digantikan dengan hewan lain. Ini bukan perkara main-main,” katanya saat pidato.
Saking sakralnya ternak babi, lanjut dia, bisa terjadi pertengkaran antarkeluarga jika ada satu pihak yang tak mendapat bagian dari ekor babi. Itu baru bagian ekor, belum lagi dengan urusan lain yang lebih esensial.
Dia menyayangkan pemerintah juga dinilai lalai dalam penetapan status penyakit yang menyebabkan kematian puluhan ribu babi di Sumut.

Baca juga:  Masih Tak Terima Putusan Cerai, Mantan Istri UAS Posting Ayat Al Imran

Pemerintah yakin bahwa kematian babi disebabkan virus kolera babi. Lalu kabar terakhir disebut karena ASF.
“Ini menandakan kalau pemerintah sepele. Tidak melalui penelitian yang mendalam. Masyarakat yang jadi bingung,” katanya.
Kematian puluhan ribu babi di Sumut ini sudah membawa dampak buruk terhadap perekonomian warga. (*)

 

Loading...

Komentar Facebook