Menulis Efektif ala Ernest Hemingway

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

“Manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan.”

Ada yang tahu siapa pemilik ungkapan keren ini? Kutipan ini diambil dari bukunya yang sangat terkenal, “The Old Man and the Sea.” Betul sekali, kalimat indah di atas adalah kutipan dari buku legendaris karya Ernest Hemingway yang harus kalian baca.

Loading...

Hemingway adalah salah satu penulis paling berpengaruh dari Amerika Serikat. Karya-karyanya dijuluki ‘seni dalam bercerita.’ Berkat tulisan-tulisannya yang mengusung gaya yang unik dan segar, serta tema-tema tulisannya yang berhasil menyentuh isi perasaan, Ernest Hemingway diganjar dengan hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954.

Apa yang membuat tulisannya berciri khas? Hemingway rupanya menerapkan prinsip jurnalistik dalam menulis berbagai cerpen dan novelnya. Sebelum terjun sepenuhnya menjadi seorang penulis, Hemingway memang pernah menjadi wartawan untuk Kansas City Star. Redaksi koran ini memiliki standar penulisan dengan mengadopsi standar-standar jurnalistik yang ketat.

Saat menulis cerpen dan novelnya, Hemingway rupanya turut mengadopsi gaya penulisan jurnalistik ini sehingga tulisannya jadi beda. Ini salah satu yang bikin Hemingway mencuri perhatian, ia berbeda.

Seperti kata Coco Channel, bahwa agar selalu baru, kita harus selalu berbeda. Sejauh apa pengaruh teori jurnalistik yang diadopsi Hemingway dalam menulis cerpen dan novel fiksi?

1. Gunakan Kalimat-Kalimat Pendek

Dalam menulis, tidak selalu yang panjang itu baik, pun tidak juga yang pendek itu jelek. Salah satu ciri kalimat dalam surat kabar adalah menggunakan kalimat-kalimat yang pendek agar pembaca mudah dalam mencerna beritanya. Teknik ini lalu diadopsi Hemingway dalam menulis cerpen dan novelnya.

Ia hindari kalimat-kalimat yang panjang, dipilihnya yang pendek-pendek. Kelebihan kalimat-kalimat pendek adalah pembaca merasa lebih nyaman membacanya serta lebih mudah menangkap isi kalimatnya.

Dalam catatan proses kreatifnya, Hemingway memang pernah berkata kalau dia tidak ingin menulis cerita yang sulit dipahami oleh pembaca. Pengalamannya sebagai wartawan begitu mempengaruhi Hemingway dalam menulis cerpen dan novel: singkat, padat, dan jelas.

Sekarang, mari cek naskah cerpen dan novel masing-masing. Baca lagi, dan periksa apakah sudah nyaman dibaca atau masih nggak luwes. Kalau masih terasa kurang enak, coba  kurangi kalimat-kalimat panjang dalam naskahnya. Pecah-pecah jadi kalimat pendek yang jelas.

Sejatinya, panjang atau pendek sebuah kalimat adalah semata selera si penulisnya. Tetapi, hindari kemubaziran atau ketidakjelasan maksud. Kalau memang belum jago-jago amat nulis kalimat panjang yang jelas maksudnya, lebih baik mulai latihan dengan kalimat pendek dulu.

Hemingway membuktikan, dengan kalimat-kalimat pendek pun tulisannya tetap bisa diterima pembaca, bahkan Nobel Sastra pun dpt diraihnya. Tak perlu panjang-panjang. Hal terpenting adalah makna dan maksud yang hendak disampaikan lewat suatu kalimat haruslah jelas.

2. Paragraf yang Pendek

Membaca tulisan dengan paragraf-paragraf panjang–sebagaimana juga tulisan dgn kalimat-kalimat panjang–ibarat menunggu tapi tanpa kepastian; melelahkan.

Selain kalimat yang pendek, jurus kedua Hemingway dalam menulis adalah menggunakan paragraf-paragraf pendek. Mengapa paragraf pendek penting? Agar pembaca tidak bosan serta untuk lebih mengefektifkan isi tulisan.

Saking semangatnya kita dalam menulis, sering kali kita nggak sadar kalau paragrafnya jadi kepanjangan dan tebal-tebal. Cerpen-cerpen Hemingway selalu ‘pendek’ halamannya tidak lebih dari tiga atau empat halaman per cerita. Cukup pendek untuk hitungan cerpen modern. Dalam novel-novelnya pun, jarang kita temukan paragraf yang panjang dan melelahkan. Hemingway menghindari penggunaan metafora yg bertele-tele.

Hemingway juga jarang menggunakan kalimat majemuk dalam tulisan-tulisan fiksinya. Sudah pada tahu kan kalimat majemuk itu yang macam bagaimana? Begini:

(a) Ida sedang sarapan sedangkan Adi tengah mencuci motornya.(b) Ayah pulang kantor ketika Ibu sedang ke pasar.

Dalam tulisan berita atau feature, penulis sebisa mungkin menghindari kalimat majemuk yang panjang dan berpotensi membingungkan pembaca. Nah, prinsip tulisan jurnalistik inilah yang diterapkan Hemingway dalam menulis cerpen dan novel.

Alih-alih menggunakan kalimat majemuk, ia memotong kalimat-kalimat panjang menjadi kalimat-kalimat pendek yang lebih jelas maknanya. Kalimat-kalimat pendek inilah yang menjadikan paragrafnya juga pendek-pendek, persis seperti artikel di koran atau majalah. Perhatikan kutipan dari salah satu cerpen Hemingway berikut ini:

“Jim Gilmore datang ke Horton Bay dari Kanada. Dia membeli toko pandai besi dari seorang tua bernama Horton.” (Bila Dara Jatuh Cinta)

Perhatikan kutipan pembuka cerpen karya Ernest Hemingway yang termuat dalam kumcer ‘Cinta Semanis Racun’ di atas. Kutipan itu tersusun atas kalimat pendek dan tidak kompleks. Bila kita baca lebih lanjut cerpen ini, akan kita lihat kalimat-kalimat yang digunakan

Hemingway memang sederhana, tidak muluk-muluk, pendek-pendek. Pun, paragraf-paragrafnya pun cenderung pendek, tidak panjang karena Hemingway tidak banyak menggunakan perumpamaan seperti yang populer saat itu.

Kalau masih bingung dengan gaya penulisan Hemingway, ambil surat kabar terdekat dan lalu cermati teknik penulisan berita atau artikelnya.

3. Menggunakan Kalimat-Kalimat Positif

Jurus ketiga Hemingway dalam menulis adalah menggunakan kalimat positif ketimbang kalimat negatif. Sebagaimana sikap yg positif, kalimat positif bagi Hemingway terdengar lebih mudah dipahami pembaca, juga lebih pendek dan tidak bertele-tele.

Menurut Hemingway, kalimat positif membuat pembaca lebih nyaman dalam memahami cerita sehingga bisa lebih mudah menerima gagasan penulis. Hemingway sangat menghindari penggunaan negasi-negasi dlm pilihan kalimatnya.

Menurutnya, kalimat negatif sangat menyakitkan batin pembaca. Dihindarinya kata-kata atau kalimat-kalimat yang berbentuk negatif, seperti kata “tidak”, “bukan”, dan sejenisnya. Selain kalimat jadi lebih pendek dan efektif, menggunakan kalimat positif bikin pembaca tidak bosan akibat terlalu banyak kata “tidak”, dan sejenisnya.

Asli: “Lelaki itu tidak menerima penggusuran rumahnya.

Gaya Hemingway: “Lelaki itu menolak penggusuran rumahnya.”

Penulis sejati dilihat dari pengaruh karyanya, bukan dari corak tulisannya. Hemingway membuktikan bahwa yang sederhana juga bisa luar biasa. Bahkan lewat kalimat dan paragraf yang pendek bak tulisan jurnalistik, dia mampu menghadirkan cerita fiksi yang memukau pembaca dunia.

Justru dengan kesederhanaan teknik menulisnya, Hemingway berhasil menggedor batin pembaca dengan gencar dan tidak bertele-tele. Dialognya sederhana, sehingga terasa lebih hidup sekaligus mudah dibayangkan. Tema tulisannya jg sederhana, tp malah mudah diterima pembaca.

Justru karena keserhanaan tema dan teknik penulisan inilah, membaca karya-karya Hemingway terasa sangat fokus dgn karakter-karakter yang tajam. Begitulah seorang penulis agung, dia mampu menghadirkan hal-hal istimewa dari berbagai yang sederhana. Sekian, semoga bisa diambil manfaatnya.

(Tulisan dari Halaman Facebook Penerbit DIVA Press 29 Desember 2016)

Loading...

Komentar Facebook