RA Kartini, Ide Feminis dan Gerakan Misionaris

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

LPPUBLIKA.CO.ID – Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879 tepat hari ini atau 141 tahun yang lalu.

Loading...

RA Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Raden Ajeng Kartini Sumringah saat mendapatkan kesempatan yang diberikan ayahnya, Raden Mas Adipati Ario (RMAA) Sosroningrat, untuk belajar di Europse Lagere School (ELS) pada 1885. Kartini kecil saat berusia sekitar enam tahun, bisa merasakan kehidupan di luar sangkar emas atau tembok pendopo kabupaten setelah diizinkan belajar di gedung sekolah yang berada tidak jauh (sebelah) dari Pendopo Kabupaten Jepara ini

Kartini kecil juga girang bisa memiliki banyak teman, kendati teman-teman sebaya dari kalangan Bumi Putera di sekolah yang berbahasa Belanda tersebut terbilang sedikit. Hanya putra-putri bangsawan saja yang bisa bersekolah.

Dalam buku Kartini Penyulut Api Nasionalisme, sejarawan Hadi Priyanto mengungkap, Kartini merasa senang bersekolah. Ia bisa berlarian ke sana-kemari, melompat, bermain bebas, dan bahkan tertawa lepas. Tidak seperti di dalam lingkungan pendopo kabupaten atau di rumah besarnya, yang semuanya hidup serba diatur dengan adat dan berbagai tata laksana bangsawan Jawa yang cukup ketat dengan aturannya.

Hadi Priyanto juga menulis, saat itu juga menjadi titik awal bagi Kartini dan adik-adiknya RA Roekmini dan RA Kardinah bisa menikmati kebebasan, berinteraksi dengan luar lingkungan pendopo Kabupaten Jepara. Sikap RMAA Sosroningrat yang moderat, memberikan kesempatan kepada RA Kartini untuk tahu banyak hal tentang rakyat di luar tembok pendopo.

RMAA Sosroningrat juga sering mengajak Kartini kecil bersama adik-adiknya untuk berkeliling melihat langsung kehidupan rakyat. Dengan begitu, ia telah mendidik anak-anaknya untuk melihat dan merasakan penderitaan rakyat.

Dari kebiasaan ini, kepekaan Kartini dalam melihat persoalan rakyat dan kaum perempuan kian tajam karena dia juga bisa mendapatkan penjelasan langsung dari ayahnya,” ujar Hadi. Satu hal yang membuat Kartini senang, lanjutnya, adalah ketika ayahnya tersebut juga memberikan izin kepada Kartini untuk menikmati pantai Bandengan, Jepara.

Saat libur, Kartini dan adiknya jamak bercengkerama, menghabiskan waktu, dan menikmati pantai yang berjarak sekitar 8 kilometer dari pendopo Kabupaten Jepara ini, dengan diantar oleh pengasuhnya, Mbok Mangunwikromo.

Karena, Kartini senang menikmati pantai berpasir putih ini. Begitu juga saat berusia 12 tahun dan harus mulai menjalani pingitan, pantai Bandengan menjadi tempat yang paling dirindukan Kartini.

“Bukan saja karena panorama alamnya yang indah, pantai ini juga menjadi tempat bagi Kartini untuk bermunajat, menghibur diri bahkan juga untuk mencari dan menggali inspirasi atas pemikiran-pemikirannya,” kata Hadi.

Petugas Museum RA Kartini, Jepara, Riza Khairul Anwar, mengungkap, ada sebuah literasi di museum yang mengisahkan kedekatan Kartini dengan Marie Ovink Soer, istri pejabat asisten residen baru, setelah perkenalan mereka pada 1892. Pada liburan pertama bertugas di Jepara, Kartini bersama Roekmini dan Kardinah mengajak istri asisten residen tersebut mengunjungi pantai Bandengan.

Ternyata Marie Ovink Soer senang dan sangat tertarik oleh keelokan pantai ini. Sang istri Asisten Residen pun menanyakan apa nama pantai tersebut.

Oleh RA Kartini dijawab pantai Bandengan. Kemudian, Marie Ovink Soer juga menyebutkan di Holand (Belanda) juga ada pantai yang mirip dengan pantai Bandengan ini, namanya Klein Scheveningen.

“Kepada Nyonya Ovink Soer, RA Kartini pun spontan menyampaikan, bagaimana kalau pantai Bandengan ini mereka sebut Klein Scheveningen,” ujar Riza.

Menurut Joost Cote dalam Kartini -The Complete Writings 1898-1904 (2018), Marie Ovink Soer saat itu sudah terkenal sebagai feminis liberal yang kerap menulis dalam jurnal perempuan Belanda. Selain keahlian berbahasa Belanda, Cote meyakini melalui Marie ide-ide pergerakan feminis Belanda memasuki kepala Kartini.

Dalam tulisannya mengenang Kartini pada 1925, Marie menuturkan ia memang sering membacakan bahan bacaan dari Belanda dan kemudian berdiskusi dengan Kartini dan dua adiknya, tiga serangkai yang ia panggil Daun Klover. Marie cukup lama berada di Jepara, dari 1891 hingga 1899, sebelum ia kemudian pindah dan kian jarang menyurati Kartini.

Bermula dari Marie, Kartini kemudian rajin mengikuti perkembangan pergerakan feminisme di Belanda. Ia kemudian mulai dikenal kalangan progresif di Belanda setelah berkontribusi melalui tulisan dalam acara Pameran Nasional Pekerja Perempuan pada 1898. Acara itu digagas untuk menunjukkan peran perempuan, termasuk di negara jajahan, bagi Kerajaan Belanda.

Dari situ, Kartini kemudian membangun lingkaran kawan-kawan Belandanya yang ia surati kemudian. Hampir seluruhnya, setidaknya pada permukaan, merupakan golongan pendorong kebijakan progresif Belanda.

Di antaranya, Anneke Glaser, perempuan sepantaran Belanda yang pernah jadi tamu di rumah Kartini di Jepara. Menurut Cote, Anneke menolak memublikasikan surat Kartini yang ia terima.

Selanjutnya, Stella Zeehandelaar (1874-1936) yang berusia lima tahun lebih tua dari Kartini. Stella yang tinggal di Belanda menyambut permintaan sahabat pena Kartini yang dikirimkan ke jurnal perempuan De Hollandsche Lelie. Stella merupakan anggota Partai Buruh Sosialis Demokrat Belanda, seorang feminis liberal, vegetarian, dan pendorong kebijakan etis di Hindia Belanda.

Kemudian, ada Hilda Boissevain (1877-1975). Hilda juga anggota lingkaran progresif liberal Belanda. Bersama suaminya, Hendrik de Booij, Hilda sempat ke Hindia Belanda dan bertemu Kartini.

Di antara rekan surat-menyurat Kartini, Hilda dan suaminya yang paling keras menentang kolonialisme. Tak kalah penting adalah pasangan Abendanon, Jacques (1852-1925) dan Rosa Mandri (1857-1944). Mereka berdua tinggal di Batavia, Hindia Belanda, sejak 1875

Hubungan mereka dengan Kartini bermula saat Jacques baru menjabat sebagai Kepala Departemen Pendidikan, Kebudayaan, dan Agama Hindia Belanda dan mengunjungi Jepara. Keduanya aktif mendorong pendidikan yang diimpikan Kartini. Meski kemudian, Jacques berperan besar memilah dan memangkas surat-surat dari Kartini dan menerbitkan Door Duisternis tot Licht (1911) agar sesuai agenda kolonial.

Belakangan, putra pasangan itu, Edie Abendanon (1878-1962), juga bersurat dengan Kartini. Kartini menganggap Edie sebagai abangnya dalam surat-surat itu.

Surat-Surat Kartini

Sementara itu, ada dua koresponden Kartini yang tampaknya ikut memengaruhi pikiran keagamaan Kartini. Yang utama, Nellie van Kol (1851-1930), istri pimpinan Partai Buruh Sosialis Demokrat Henri van Kol (1852-1925) yang juga anggota parlemen Belanda.

Nellie sempat tinggal di Jawa pada 1880-an. Ia juga salah satu tokoh berpengaruh dalam gerakan feminis Belanda. Menurut Joost Cote, saat bersurat dengan Kartini, Nellie juga aktif dalam gerakan misi Kristen Evangelikal. Kartini kerap menyebutkan pengaruh Nellie dalam pemikirannya tentang Tuhan, utamanya setelah terkesan selepas bertemu langsung pada April 1902.

Sementara Henri van Kol, setelah kembali ke Belanda, memimpin pergerakan reformasi politik kolonial melalui parlemen. Ia juga pendorong utama Politik Etis dan menganggap Kerajaan Belanda memiliki tugas moral mengangkat harkat pribumi. Henri juga yang berperan penting mengupayakan agar Kartini bisa bersekolah di Belanda.

Tokoh kedua tempat Kartini mendiskusikan persoalan agama adalah seorang misionaris Kristen yang tengah menjalankan misi di Poso, Sulawesi Tengah, Nicolaus Adriani (1865-1926).

Mereka bertemu pada 1900 saat Adriani diundang keluarga Abendanon. Kartini agaknya banyak mendapat materi-materi tentang agama Kristen dari Adriani. Joost Cote secara spesifik menjelaskan misi Nicolaus di Poso saat itu memang untuk mencoba menahan Islam yang kian tersebar.

Tokoh yang juga tercatat pernah disurati Kartini adalah Profesor Gustaf Anton (1864-1924), dari Jerman. Ia merupakan rekan Jacques Abendanon yang sempat singgah di Jepara.

Menurut Cote, sangat terbuka kemungkinan Kartini bersurat dengan pihak-pihak lain. Namun, surat-surat itu sebagian juga tak diterbitkan. Kartini mestinya bersurat dengan pribumi di Indonesia karena ia mengenal Agus Salim, seorang siswa cerdas dari Padang. Kartini juga pasti bersurat dengan abangnya yang termashyur, Sukartono, yang tengah menempuh pelajaran di Belanda kala itu.

Cote menilai, ketiadaan surat-surat kepada Kartono dalam publikasi meski pernah dipinjam Jacques Abendanon menandakan sifat asli publikasi surat-surat Kartini yang memang dipilah-pilah. Yang juga tampaknya curang dalam penerbitan surat-surat Kartini adalah ketiadaan dokumentasi lengkap soal balasan pihak-pihak yang disuratinya.

Dengan hal itu, yang dilakukan Kartini terbaca, seperti monolog yang keluar murni dari kepalanya. Padahal, kita paham dari surat-suratnya, Kartini dijejali dengan novel-novel, majalah, kumpulan puisi, bahkan sangat mungkin Injil dari para penerima suratnya. [republika.co.id/publika.co.id]

Loading...

Komentar Facebook