Maju Mundur Cantik ala Stafsus Milenial

Oleh: Kris Wantoro

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Lagu apa yang bikin orang bimbang?

Loading...

Maju mundur maju mundur cantik, cantik… –princess Syahrini.

Bagaimana orang tidak bimbang kalau liriknya maju mundur begitu…? Ngomong-omong tentang “mundur”, nuansa mundur tengah melingkupi sebagian public figure kita.

Sebenarnya sudah lama saya menyimpan tanya, apa sih kiprah nyata dari staf khusus presiden?

Sejak diperkenalkan pada publik, 12 November 2019, tidak ada yang menyajikan kinerja/ kontribusi para milenial ini dalam memudahkan hidup presiden. Malahan besaran gajinya yang digaungkan. Gaji besar tanpa kerja nyata, buat apa?

Kalau boleh sebutlah mereka gabut (makan gaji buta), karena tujuan presiden merekrut mereka adalah untuk memberi masukan segar, membuat program dan terobosan baru demi kemajuan bangsa dan negara. Tapi, masukannya seperti apa, cakupannya sebesar apa, inovasinya secemerlang apa; tidak ada yang tahu. Dari beragam latar belakang dan prestasi akademis maupun organisasi, di mana mereka saat pandemi Corona melanda? Anggaplah memang masyarakat awam yang tidak mampu melihat kontribusi mereka.

Sebelumnya, mari kita lihat kembali latar belakang para stafsus, untuk kemudian membayangkan apakah mereka cukup kapabel menjadi “pembisik” presiden.

Putri Indahsari Tanjung (23). Founder dan CEO Creativepreneur dari Chief Bussiness of Creative. Adamas Belva Syah Devara. CEO Ruang Guru. Ayu Kartika Dewi. Mengampanyekan nilai toleransi dan keberagaman. Pernah bergabung dengan Indonesia Mengajar, mengabdi di Desa Papaloang, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Bergelar Master of Business Administration (MBA). Angkie Yudistia (32). Menyandang disabilitas. Lulusan Master jurusan Public Relations. Pendiri Thisable Enterprise.

Gracia Josaphat Jobel Mambrasar (Billy Mambrasar). Lulusan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, ITB. Pendiri “Kitong Bisa”, yayasan yang berfokus mengurusi pendidikan anak-anak Papua. Andi Taufan Garuda Putra (32). Lulusan Harvard Kennedy School. CEO Amartha Mikro Fintech, startup di bidang keuangan mikro. Pernah menjadi konsultan bisnis di IBM Indonesia (2008). Aminudin Maruf. Mantan Ketua Umum PMII (2014-2016). Sekjen solidaritas ulama muda Jokowi (Samawi). Pendidikan terakhir, studi master di Trisakti. (kompas.com)

Bukan milenial kaleng-kaleng, sepakat? Namun, alih-alih menambah prestasi, sebagian dari mereka justru memproduksi kontroversi. Dari yang sekedar cuitan di media sosial, membuat “surat cinta buat camat”, sampai desakan buat mundur.

Billy Mambrasar dan cuitan kontoversial

Dalam salah satu cuitannya Billy menggunakan frasa “kubu sebelah”, yang menurut bang Denny Siregar tidak mencerminkan persatuan. Meski sudah meminta maaf, namun jejak di dunia digital tidak bisa di-angin lalu-kan. Oleh Anggota DPR Partai Gerindra, Billy dan stafsus milenial lainnya diminta untuk berhati-hati dalam membuat pernyataan. Staf khusus dewan pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo juga memberi nasehat yang sama agar Billy lebih bijak. (CNBC Indonesia)

Amat disayangkan, blunder yang dilakukan Billy tidak berhenti setelah dia minta maaf atas cuitannya. Dalam profilnya di LinkedIn, dia menuliskan posisinya setingkat menteri. Apakah milenial kita yang satu ini tahu apa yang dia tulis? Tahulah. Mahasiswa Oxford, gituloh! Baru setelah mendapat banyak cibiran, Billy mengganti deskripsi profilnya. (katadata.co.id)

Andi Taufan: Surat Cinta buat Camat

Andi Taufan lebih parah. Niatan Andi dalam menyatakan cinta terkait usaha memerangi pandemi tentu sah saja. Salahnya, sebagai stafsus dia tidak berwenang menyurati camat. Kedua, dia memakai kop sekretariat kabinet (Setkab). Entah dari mana Andi mendapat kop tersebut. Tidak ada pemberitaan apakah presiden tahu masalah ini sebelum viral. Sekretariat Kabinet, pihak yang namanya dicatut bahkan bergeming seolah bukan masalah besar. Ketiga, suratnya mengacu pada suatu perusahaan di mana dialah pemiliknya. Mengakui keteledorannya, Andi menarik kembali ungkapan cintanya.

Sampai tulisan ini dimuat, Andi akhirnya mengundurkan diri dari jabatan stafsus (CNN Indonesia). Niat yang sedikit lebih baik, karena tindakannya demikian fatal. Meski begitu ada catatan hitam yang dia tinggalkan.

Belva Devara: Saya Mundur

Selamat untuk Belva, seru bang Denny dari balik seruput kopinya.

CEO Ruang Guru ini dianggap berpotensi melakukan konflik kepentingan, terkait program pemerintah melalui kartu prakerja menggandeng perusahaannya. Meski Belva sudah menjelaskan, tidak terlibat dalam rapat pemilihan mitra. Namun, (mulut) netizen Indonesia selalu selangkah lebih maju. Disayangkan pula, label “milenial” sudah kadung tercoreng oleh dua rekan sebelumnya. Dianggap gegabah, dan emosional. Ditambah lagi, sebagai CEO perusahaan merangkap jabatan di lingkungan istana memberinya kemungkinan untuk terlibat kecurangan.

Jejak dari tiga stafsus ini menjadi “ranjau” bagi empat stafsus milenial lainnya. Jika salah melangkah, bisa celaka diberondong kritik bahkan cercaan masyarakat.

Hal ini sekaligus menjadi “kuliah” bagi milenial umumnya. Prestasi di kampus jempolan dalam dan luar negeri, bahkan bisa memimpin perusahaan yang diperhitungkan Majalah Forbes sekalipun bukan jaminan bisa bekerja dalam birokrasi pemerintahan.

Mengutip dari pinterpolitik.com, stafsus ini seharusnya bisa mendengar aspirasi kaum muda yang bisa disampaikan langsung atas apa yang menjadi keresahannya di tengah pandemi agar segera dilakukan perbaikan dan dieksekusi. Mereka juga memiliki peluang terbesar untuk aktif memberikan rekomendasi perbaikan kebijakan pemerintah yang dinilai minor oleh publik, yaitu saat “diskusi” dengan presiden.

Belajar dari menteri muda

Langkah “mundur cantik” diteladankan eks-CEO Gojek, Nadiem Makarim. Pernah diincar isu konflik kepentingan terkait pembayaran SPP dengan aplikasi, Nadiem bergerak cekatan. Keberhasilannya menahkodai startup raksasa di Indonesia memungkinkan hal itu terwujud. Namun, daripada menjadi batu sandungan, Nadiem memutuskan lambaikan tangan.

Dengan demikian dia bisa lebih berfokus memberikan sumbangan nyata pada pemerintah di bidang pendidikan. Bagaimana pun, orang tidak bisa tinggal di dua rumah.

Aditya Perdana, Direktur Eksekutif Puskapol UI menghimbau, apabila perlu, kehadiran para stafsus di sisi Jokowi dipertimbangkan ulang. Daripada sekedar “mengisi pemerintahan dengan milenial” (lokadata.id)

Kembali pada lagu princess, mau maju atau mundur?

Majulah jika memang benar dan mumpuni, mundur saja jika terbukti salah dan belum mampu.

Loading...

Komentar Facebook