Memahami Karakter Asli Kaum Akademisi

Oleh: Wiwin Zein

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Sebelum memahami bagaimana karakter asli dari kaum akademisi, mungkin baik dikedepankan terlebih dahulu sebuah penggalan kisah dari seorang filosof hebat pada masa Yunani Kuno dulu. Dia lah Socrates.

Loading...

Socrates adalah seorang filososf Yunani, seorang guru di akademia. Ia diputus bersalah oleh pengadilan Athena karena didakwa telah meracuni pikiran anak-anak muda. Ia dijatuhi hukuman mati dengan cara harus meminum racun.

Sebelum diekseskusi Socrates dimasukan ke dalam penjara. Krito, sahabat Socrates nan kaya mencoba menyelamatkan Socrates. Ia akan membantu Socrates untuk melarikan diri, dengan cara menyuap para penjaga.

Socrates menolak rencana dan usulan Krito, karena menurutnya melarikan diri dari penjara tidak bisa dibenarkan secara moral. Socrates tidak mau mengorbankan prinsip dan kebenaran yang diyakininya dengan cara melarikan diri. Akhirnya Socrates dieksekusi dengan cara meneguk segelas racun, dengan penuh kesadaran dan kebebasan.

Heroisme Socrates tersebut lantas menjadi contoh klasik tentang integritas moral. Socrates menjadi simbol kesetiaan terhadap kebenaran dan suara hati.

Socrates sudah berabad-abad lamanya tiada. Tapi karakter Socrates banyak dianut oleh mereka yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran. Walaupun mereka harus berhadapan dengan kekuasaan.

Kaum akademisi adalah salah satu kelompok masyarakat yang mewarisi karakter Socrates itu. Berada di lingkungan yang ilmiah, para akademisi dituntut dan terlatih untuk ajeg menyuarakan kebenaran. Oleh karena itu tidak aneh jika banyak gerakan moral dan sosial bermula dari kampus-kampus dipelopori oleh para dosen dan mahasiswa, karena mereka bagian dari kaum akademisi.

Kaum akademisi terbiasa berpikir kritis dan objektif. Mereka berbicara, melakukan analisis, atau memberikan argumentasi berdasarkan teori ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan kepentingan atau sentimen pribadi.

Begitulah karakter asli para akademisi sesungguhnya. Mereka akan melakukan kritik ketika ada sesuatu hal yang mereka anggap janggal atau tidak sesuai dengan teori ilmu pengetahuan yang mereka pahami. Mereka terkadang bersikap bak oposisi terhadap banyak kebijakan pemerintah.

Dengan demikian seharusnya kita bisa memahami ketika ada seorang akademisi yang suka bersikap kritis terhadap pemerintah. Seperti Faisal Basri misalnya. Ia seorang akademisi ahli ekonomi yang reputasinya tidak diragukan lagi.

Faisal Basri sering melakukan kritik-kritik terhadap beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai dari “kaca mata” pengetahuan yang ia miliki keliru atau cenderung merugikan masyarakat. Padahal Faisal Basri ini, jika bicara dukungan politik adalah pendukung Presiden Jokowi sendiri.

Beberapa kritik yang pernah disampaikan dengan cukup keras oleh Faisal Basri antara lain tentang masalah impor, omnibus law, dan penanganan virus Corona. Bahkan saking kesalnya dengan sikap pemerintah dalam penanganan virus Corona, terutama terhadap Menteri Kemaritiman dan Investasi, Faisal Basri sampai menyebut sang Menteri yaitu Luhut Binsar Panjaitan lebih berbahaya dari virus Corona itu sendiri.

Sulit dimengerti jika Faisal Basri bersikap kritis pemerintah karena ada kepentingan. Dia adalah seorang akademisi, bukan pengurus partai politik. Jadi ia bersikap kritis terhadap pemerintah adalah dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai seorang akademisi.

Mungkin ada orang yang berpikiran bahwa Faisal Basri bersikap kritis terhadap pemerintah karena ia tidak kebagian “kue” kekuasaan. Ia tidak dikasih jabatan padahal telah mendukung Presiden Jokowi mislanya. Pikiran seperti itu boleh saja, tapi argumentasinya kurang bisa diterima mengingat Faisal Basri bukan tipe orang yang haus kekuasaan.

Selain Faisal Basri ada juga nama Refly Harun. Ia seorang akademisi, ahli hukum tata negara. Walau pun tidak sekritis Faisal Basri, Refly Harun cukup kritis terhadap beberapa kebijakan pemerintah, terutama dari segi hukum.

Refly Harun sempat diberi jabatan oleh presiden Jokowi di beberapa BUMN. Tetapi sikap kritisnya tidak hilang. Sewaktu jadi komisaris di BUMN pun ia kerap melancarkan beberapa kritik terhadap pemerintah yang menurutnya kurang tepat.

Karakter asli Refly Harun sebagai kaum akademisi tidak hilang walaupun ia berada dalam pusaran kekuasaan. Sehingga akhirnya beberapa waktu yang lalu Refly Harun dicopot dari jabatannya sebagai komisaris di salah satu BUMN.

Selain Faisal Basri dan Refly Harun, tentu ada banyak nama kaum akademisi lain yang juga bersikap kritis terhadap pemerintah. Sebut saja nama Rocky Gerung, Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, Rizal Ramli, atau Effendi Ghazali misalnya.

Diantara mereka bersikap kritis terhadap pemerintah mungkin saja ada yang memiliki vested interest, walau pun kecil. Tapi bisa dipastikan bahwa mereka bersikap kritis terhadap pemerintah lebih karena panggilan jiwa mereka sebagai seorang akademisi. Karakter asli mereka sebagai seorang akademisi tidak mudah dipinggirkan begitu saja oleh kepentingan lain.

Loading...

Komentar Facebook