Sengketa Ahli Waris Pancasila

Oleh SAMSIR POHAN

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Ini hanya pandangan ringan. Tentang apa yang sedang kita debat-gaduhkan. Tentang Pancasila yang sedang kita ributkan: perjuangkan. Coba kita meminggir dari kerumunan, meluaskan pandangan.

Loading...

Mari kita mulai dari satu pertanyaan; milik siapakah Pancasila? Kita tentu akan menjawab milik kita semua: rakyat Indonesia. Lebih tepatnya milik moyang kita. Kita ini pewarisnya. Semua kita diamanati untuk menjaga pusaka yang satu; Pancasila.

Kita sangat beruntung. Moyang kita mewariskan harta paling berharga; falsafah bangsa yang dilambangkan garuda. Pada tekad dan mufakat pendiri bangsa itulah kita berpegang. Ya, sesungguhnya salah satu pesan penting dari perumusan dan rundingan mufakat dari para perumus Pancasila itu adalah “tepa salira”. Mereka dulu juga berdialektika, banyak perbedaan pandangan.

Kita lanjut pada pertanyaan kedua; siapa yang berkepentingan merampas warisan itu? Tentu musuh kita dan penjajah. Penjajah masih ada? Ya, selalu ada bukan? Bentuk dan caranya saja yang berbeda. Watak penjajah dari dulu begitu. Adu domba, lalu kuasai.

Kita diadu domba? Agaknya begitu. Oleh siapa? Makanya dari awal saya ajak kita untuk minggir dari gelanggang kegaduhan.

Praduga itu berlebihan? Salah? Baiklah, bisa saja bukan orang luar yang ingin merampas warisan kita; tapi musuh dalam selimut. Dari dulu, jaman Belanda, juga ada kan “Londo Ireng”. Kita harus belajar dari sejarah lampau, kita selalu ‘diwayangi’.

Seolah kita ini sedang sengketa warisan. Pancasila yang moyang kita wariskan kita rebut-rebutkan dan ribut-ributkan. Padahal kalau itu tidak utuh tak lagi bermakna; tak berharga. Ibarat surat tanah yang koyak-koyak, tak bisa diklaim kepemilikannya. Begitulah tamsil kondisi kita saat ini.

Kita baru saja retak. Hampir terbelah karena pemilu lalu. Lah sekarang mau terbelah lagi? Seperti amuba saja kita.

Para elit, jadilah teladan. Para pemuda jadilah perekat. Guyub rukunlah para pewaris negeri!

*Penulis adalah Ketua DPD KNPI Sumatera Utara

Loading...

Komentar Facebook