Rusia, China dan AS Berlomba Siapkan Vaksin Corona

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Pemerintah China dilaporkan telah melakukan eksperimen vaksinasi kepada masyarakat yang diperkirakan sangat beresiko terinveksi virus Covid-19 pada bulan Juli 2020.

Loading...

Mayoritas yang menerima vaksin adalah tenaga medis dan karyawan perusahaan milik pemerintah yang sangat rentan tertular virus Cobid-19.

Sebelumnya, Rusia telah mengklaim sebagai negara paling awal yang menggunaka vaksin. Namun klaim Rusia itu diragukan karena faktanya China tiga pekan lebih cepat menggunakan vaksin secara massal dari Rusia.

Para pejabat di berbagai negara di dunia berdebat tentang kemungkinan memangkas protokol dalam pengembangan obat untuk bisa segera memasarkan vaksin dan obat virus corona di pasar.

Banyak negara menyatakan di awal bahwa mereka tidak akan mengambil jalan pintas dalam pengembangan vaksin, tetapi pada praktiknya mereka makin dipaksa untuk memotong lintasan karena korban manusia dan dampak ekonomi wabah ini makin menggila.

Kantor presiden Amerika Serikat tampaknya mulai tidak sabar setelah kabar dari Beijing ini menyebar. Di Twitter, Presiden Donald Trump menuduh bahwa pengembangan vaksin Covid-19 di AS diperlambat oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) atau kalau tidak oleh “deep state”.

Deep state adalah teori tentang kolusi dan kroni kelompok orang berpengaruh di dalam sistem politik yang berusaha mengendalikan pemerintahan, atau pemerintahan tersembunyi di balik pemerintah sebenarnya yang sah dan dipilih rakyat.

Namun, Trump tidak menyebutkan bukti apa pun atas tuduhannya itu.

Proses standar untuk mendapatkan persetujuan penggunaan vaksin biasanya butuh waktu bertahun-tahun dan observasi terhadap pasien dalam jumlah besar untuk memastikan keamanan dan keefektifan vaksin tersebut.

AS dan China sama-sama berjanji untuk memasarkan vaksin Covid-19 pada akhir tahun ini atau awal 2021 — pemangkasan prosedur yang luar biasa dan membutuhkan investasi sangat besar agar vaksin itu bisa lolos uji keamanan.

Sekarang, Beijing dan Moskow sudah menunjukkan mereka bisa lebih cepat dari jadwal yang sudah sangat dipercepat itu, dengan narasi patriotisme agar banyak warga negara bersedia menjadi subjek uji coba.

Zheng Zhongwei, yang mengepalai program pengembangan vaksin virus corona di China, mengatakan “penggunaan darurat” vaksin Sinopharm dilakukan pada 22 Juli, dengan subjek pertama yaitu tenaga medis dan karyawan sejumlah BUMN. Sebetulnya, mereka bahkan bukan yang pertama. Sebulan sebelumnya tentara Tiongkok sudah disuntik vaksin eksperimental ini.

Zhongwei mengatakan subjek vaksin akan diperluas kepada semua pekerja di pasar pangan, sistem transportasi, dan industri jasa.

“Untuk mencegah penyebaran penyakit ini di musim gugur dan musim dingin, kami mempertimbangkan ekspansi secara moderat dalam program ini,” ujarnya.

“Tujuannya adalah membangun benteng imunutas pertama di kelompok-kelompok khusus dalam masyarakat,” jelas Zhongwei.

Pada Agutus, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan negaranya adalah yang pertama menyetujui vaksin virus corona. Demi menangkal kritik yang meragukan pengembangan vaksin secara fast-track tersebut, Putin mengatakan putrinya sendiri sudah disuntik vaksin itu.

Biasanya, proses penemuan obat atau vaksin tidak butuh testimoni dari para pejabat tinggi negara. Namun, hal ini terjadi berulang kali selama pandemi sekarang karena para pemimpin negara ingin menaikkan moral warganya sementara mereka tidak punya banyak sumber daya di tangan.

Di China, kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit serta para pejabat tinggi lainnya mengatakan telah disuntik vaksin eksperimental. Di AS, Trump menggembar-gemborkan keandalan hydroxychloroquine sebagai obat Covid-19.

Yang masih belum jelas sekarang adalah kenapa China menunggu hingga satu bulan sebelum mengumumkan pada Agustus lalu bahwa mereka telah melakukan vaksinasi massal. Bisa jadi itu merupakan tindakan berjaga-jaga, karena vaksinasi secara diam-diam akan mudah dihentikan jika para subjek mengalami efek samping membahayakan.

Beijing mengklaim bahwa hanya sedikit orang yang melaporkan efek samping serius setelah divaksinasi, dan tidak ada yang melaporkan demam tinggi. Namun, tidak dijelaskan berapa banyak sebetulnya orang yang telah divaksin.

(*)

Loading...

Komentar Facebook