Innalillahi, Emir Kuwait Sheikh Sabah, Meninggal Dunia

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Emir Kuwait Syekh Sabah Al-Ahamad al-Jaber al-Sabah (91 tahun) dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (29/9/2020). Ia meninggal dalam perawatan di rumah sakit di Amerika Serikat.

Loading...

Dilansir Al Jazeera, Selasa (29/9/2020), Syekh Sabah al-Ahmad meninggal di sebuah rumah sakit Amerika Serikat pada Selasa waktu setempat.

“Kesedihan yang luar biasa, kami berduka atas kematian Syekh Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, emir Negara Kuwait,” kata menteri yang bertanggungjawab atas urusan kerajaan, Syekh Ali Jarrah al-Sabah.

Sheikh Sabah telah memimpin negara produsen minyak dan aliansi Amerika Serikat (AS) itu sejak 2006. Dia memandu kebijakan luar negeri

Kuwait selama lebih dari 50 tahun. Dia telah menetapkan penggantinya, saudara kandungnya sendiri yakni Putra Mahkota Sheikh Nawaf al-Ahmad al-Sabah.

“Dengan kesedihan dan duka mendalam untuk rakyat Kuwait, dunia Arab dan Islam serta rakyat negara-negara sahabat, Emiri Diwan beruka atas meninggalnya Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, emir Kuwait,” papar pernyataan kantornya.

Emir telah dirawat di rumah sakit di AS sejak Juli setelah operasi untuk kondisi yang tidak disebutkan di Kuwait pada bulan yang sama.

Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah. Foto/REUTERS

Sheikh Sabah membangun hubungan seimbang dengan negara-negara tetangga terbesar Kuwait, memiliki hubungan terdekat dengan Arab Saudi, membangun lagi jaringan dengan bekas penjajah Irak dan tetap membuka dialog dengan Iran.

Dia mencoba menengahi konflik Teluk yang membuat Saudi dan aliansinya memboikot Qatar. Dia juga menggalang bantuan kemanusiaan di Suriah sebagai salah satu prioritas Kuwait.

Duka melanda seluruh penjuru Arab, dan negara-negara di Teluk serta dunia. Kawasan Arab pun mengumumkan masa berkabung.

“Hari ini kita kehilangan saudara besar dan seorang pemimpin yang bijak dan penuh cinta, yang berusaha keras untuk persatuan Arab,” papar Raja Yordania Abdullah dalam posting di Twitter.

Nilai mata uang dinar Kuwait jatuh terhadap dolar AS dan bursa Kuwait merosot menjelang pengumuman resmi meninggalnya emir.

Belum ada pengumuman resmi tentang proses suksesi tapi para diplomat menyatakan mereka memperkirakan Sheikh Nawaf, 83, akan berkuasa dalam transisi yang lancar.

Suksesi itu tidak diperkirakan mempengaruhi kebijakan minyak atau strategi investasi asing oleh Otoritas Investasi Kuwait, salah satu dana kekayaan terbesar di dunia. Kebijakan minyak ditetapkan oleh Dewan Minyak Tertinggi yang ditunjuk emir.

Emir baru nanti akan memilih putra mahkota dan perdana menteri yang akan diawasi secara cermat, terutama saat keuangan Kuwait tertekan akibat harga minyak yang rendah dan pandemi virus corona.

(*)

Loading...

Komentar Facebook