Hakikat Syariat Menurut Ibnu Taimiyah

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Ibnu Taimiyah dalam kitab “Tazkiyatun Nafs’ memaparkannya hakikat syariat dalam hal ini ada dua macam. Pertama, bahwa seorang hamba diperintahkan melakukan apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala, baik karena kecintaan kepadanya dan penolakan terhadapnya. Kedua, bahwa seorang hamba tidak diperintahkan dengan salah satu dari keduanya.

Loading...

Penjelasan yang pertama adalah, seperti kebaikan dan takwa yang dilakukan orang lain. Ia diperintahkan untuk mencintai dan menolongnya, seperti memberikan bantuan kepada para mujahiddin di jalan Allah dan setiap yang melakukan kebaikan, dengan sepenuh kecintaan dan keridhaan.

Demikian pula yang diperintahkan ketika orang lain mendapat musibah, yaitu dengan memberikan pertolongan terhadap orang yang terzalimi, atau mengunjungi orang yang terkena musibah atau memberikan bantuan kepada orang fakir dan yang semacamnya.

Adapun yang diperintahkan untuk membenci dan menolaknya adalah, seperti ketika seorang menapakkan kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Dalam hal ini, kita diperintahkan untuk membenci, menolak dan mengingkarinya sesuai kemampuan.

Sebagaimana dalam sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadis shahih,

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lidahnya, jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Adapun yang tidak diperintahkan kepada seorang hamba dengan salah satu dari keduanya adalah, seperti ketika melihat orang lain melakukan perbuatan mubah yang tidak jelas baginya apakah dapat menolongnya untuk berbuat ketaatan atau menghindar dari maksiat.

Dalam kondisi sperti ini tidak diperintahkan untuk mencintai atau membencinya. Demikian pula hal-hal mubah yang tidak dimaksudkan dapat membantu dalam ketaatan dan tidak pula untuk menghindari dari maksiat.

Kedua, perilaku al-muqarrabiin (orang-orang yang dekat kepada Allah) yang terdahulu, yaitu melaksanakan kewajiban dan hal-hal sunnah semaksimal mungkin, demikian pula meninggalkan hal-hal, makruh dan haram. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, “Apabila aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan bila aku perintahkan sesuatu maka laksanakanlah semampu kalian.” [HR Muslim]

Komentar ulama besar seperti Syaikh Abdul Qadir dan yang lainnya, menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah perilaku ini, oleh karena itu, mereka memerintahkan hal-hal yang sunnah bukan wajib, dan melarang sesuatu yang sifatnya khusus dengan kekhususannya, dan memahami yang umum dengan keumumannya.

Orang-orang yang dekat kepada Allah senantiasa melihatnya dari sifat yang khusus, yaitu tidak melakukan hal yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya sesuai iradahnya, yaitu apa-apa yang disukai oleh Allah dan diridhai-Nya. Kehendak-NYa yang berlaku dalam agama dan syari’at. Jika tidak, maka semua kejadian kembali kepadanya baik dalam bentuk kejadiannya maupun dalam bentuknya.

Para rasul diutus untuk menyempurnakan fitrah dan mengukuhkannya, bukan untuk mengganti dan merubah fitrah. Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda,

“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya]

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”
[QS Ar-Rum: 30]

Dan dalam sebuah hadis shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku itu dalam keadaan lurus, lalu mereka digelincirkan oleh setan. setan mengharamkan apa yang Aku halalkan bagi mereka dan memerintahkan mereka menyekutukan-Ku apa yang Aku tidak turunkan kekuasaan dengannya.” {HR Muslim dan Thabrani]

Lurus dalam hadis di atas adalah istiqamah dengan mengikhlaskan agama hanya karena Allah, dan hal itu mencakup kecintaan kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, baik dalam cinta maupun ketundukan, karena ibadah itu mencakup puncak kecintaan dan ketundukan diri, dan hal itu tidak ada yang berhak kecuali hanya untuk Allah semata, dan tawakkal hanya kepada Allah semata.

Rasul harus ditaati dan tidak boleh didurhakai, yaitu menghalalkan apa yang dihalalkan, dan mengharamkan apa yang diharamkan, dan pelaksanaan ajaran agama harus sesuai dengan apa yang beliau syari’atkan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخْشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” [QS An-Nur: 52]

Dan firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. [QS At-Taubah: 59].

Inilah hakikat agama Islam dan para rasul diutus untuk itu.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

۞ شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”
[QS Asy-Syura: 13]

Wallahu A’lam

(*)

Loading...

Komentar Facebook