Ahli: COVID-19 Menular Lewat Udara, Ini Tempat yang Harus Diwaspadai

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Pusat dan Pengendalian Pencegahan Penyakit AS (CDC) melaporkan bahwa masyarakat harus mewaspadai penularan COVID-19 lewat udara setelah menemukan bukti pada beberapa kasus.

Loading...

Sebelumnya, CDC sempat memperbaharui pedoman terkait penularan COVID-19 lewat udara namun disebut salah posting. Kini panduan terbaru menyebut COVID-19 bisa bertahan di udara bahkan hingga beberapa jam.

“Beberapa infeksi bisa menyebar lewat paparan virus dalam droplet dan partikel kecil yang bisa bertahan di udara selama beberapa menit hingga beberapa jam,” tulis CDC dalam unggahan bertanggal 5 Oktober 2020.

Lantas di mana saja tempat yang paling berisiko penularan COVID-19 terlebih lewat udara?

1. Ruangan yang minim ventilasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengakui bukti penularan COVID-19 lewat udara. WHO menyebut perlu mewaspadai penularan COVID-19 lewat udara di ruangan tertutup atau minim ventilasi.

Hal ini dikarenakan sirkulasi udara berputar terus menerus di tempat minim ventilasi, sehingga risiko penularan COVID-19 lewat udara sangat tinggi.

“Menghindari tempat ramai, kontak dekat, dan ruang tertutup dengan ventilasi yang buruk, rumah dan kantor harus memastikan ventilasi yang baik,” kata WHO dalam pedoman terkait penularan Corona lewat udara beberapa waktu lalu.

2. Toilet

Dikutip dari Mirror, Dr Tomasz George, kepala ilmuwan di ViraxCare, mengungkap toilet menjadi salah satu tempat yang berisiko tinggi penularan COVID-19 di kantor. Maka dari itu, penggunaan masker di kamar mandi sangat penting, bisa jadi ada penularan dari aerosol saat seseorang yang terinfeksi COVID-19 menyiram feses mereka tanpa menutup toilet.

Partikel-partikel dari feses bisa saja menyebar sekitar 1 meter dari toilet. Hal ini diyakini sama menularnya dengan penularan rute lain.

Pastikan juga untuk selalu menutup toilet sebelum menyiram feses. Cuci tangan hingga bersih selama 20 detik usai menggunakan fasilitas toilet umum.

3. Bus ber-AC

Sebuah studi mengungkap bukti penularan COVID-19 lewat udara di bus ber-AC. Penularan COVID-19 lewat udara terjadi saat sebagian orang yang melakukan perjalanan di dua bus berbeda dengan AC menyala dan jendela tertutup.

Salah satu bus tersebut terdapat pasien COVID-19. Hasil studi menemukan pada akhirnya banyak yang tertular COVID-19 dari bus ber-AC yang ditumpangi pasien positif COVID-19.

Studi menyimpulkan, jalur penularan utama terjadi saat di bus ber-AC, yaitu penularan COVID-19 melalui udara. Hal ini disebabkan karena seluruh peserta sebelumnya sempat bergabung dan berkerumun namun dinyatakan negatif COVID-19 sebelum masuk bus.

“Memahami rute penularan COVID-19 sangat penting untuk menahan pandemi, sehingga strategi pencegahan yang efektif dapat dikembangkan dengan menargetkan semua rute penularan potensi,” ujar Shen.

“Temuan kami memberikan dukungan yang kuat untuk mengenakan penutup wajah di lingkungan tertutup dengan ventilasi yang buruk,” pungkasnya.

Lantas berapa jarak yang perlu diwaspadai?

Dalam pedoman terbarunya, CDC menyebut COVID-19 bisa menular lebih dari 1,8 meter usai meninggalkan ruangan. Maka dari itu, sebisa mungkin menjaga jarak aman lebih dari 1,8 meter dan selalu mewaspadai ruangan dengan ventilasi minim.

“Virus tersebut bisa menginfeksi orang dalam jarak lebih dari 6 kaki (1,8 meter) dari orang yang terinfeksi setelah orang tersebut meninggalkan ruangan,” lanjutnya.

(*)

Loading...

Komentar Facebook