[Opinia] Dua Kepemimpinan Politik

Oleh: Dr. Warjio, Ph.D*

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

KEPEMIMPINAN POLITIK mengacu pada kelas penguasa yang memikul tanggung jawab mengelola urusan dan sumber daya untuk pengembangan wilayah yang teratur.

Loading...

Saya mengenal dua kepemimpinan politik yang berhasil mengarungi tantangan kepemimpinan.

Keduanya saya anggap berhasil dan bisa dijadikan contoh. Meski berada dalam negara berbeda, keduanya meninggalkan jejak yang layak diikuti.

Merakyat, berilmu, berakhlak dan mampu berkomunikasi dengan berbagai elemen, dan forum adalah ciri dua tokoh ini yang mungkin tidak dimiliki pemimpin lainnya.

Surin Pitsuwan

Pengalaman dengan salah seorang pemimpin politik–salah satu partai politik Thailand. Dialah Surin Pitsuwan–tokoh politik dari Partai Demokrat.

Surin adalah Muslim dari Selatan Thailand–daerah mayoritas Muslim yang sering terjadi konflik dengan pemerintahan Pusat di Bangkok.

Surin adalah tokoh politik yang  berhasil mengembangkan bagaimana pusat politik Thailand harus juga melihat ke lokal.

Surin Pitsuwan (dok. asean.org)

Sebagaimana diketahui, meskipun tingkat tertentu kekuasaan pengambilan keputusan didelegasikan kepada administrasi lokal sebagai hasil dari desentralisasi, struktur kekuasaan politik dasar Thailand dan otoritas negara masih berpusat di Bangkok.

Seruan terakhir untuk banyak keputusan, terutama yang menyangkut proyek atau kebijakan pembangunan besar masih terpusat.

Identitas politik regional tidak bertahan dari kekuatan pusat dan perspektif politik lokal, identitas lokal tampaknya memainkan biola kedua kekuasaan pusat.

Politisi lokal yang pernah berbondong-bondong ke Bangkok, ibukota kekuasaan terpusat, terus mempertahankan kelompok mereka sendiri.

Sementara sebagian besar berusaha mengalahkan politisi lain dan pegawai negeri di Bangkok dengan menggunakan kebijaksanaan mereka (Chanchai Chaisukkosol, 2007).

Pertama sekali saya jumpa dengannya dan melakukan wawancara dengannya di Nakorn Sri Tamaraj,–kampungnya di Selatan Thailand tahun 2000.

Saya hampir tidak percaya–sebagai salah seorang tokoh penting di Thailand dan juga salah satu pimpinan partai dan pewaris Pesantren terkenal di Nakorn Sri Tamaraj.

Pembawaannya sangat bersahaja, sederhana tapi sangat berwawasan.

Ketika ia bicara politik Thailand, ia mampu menjelaskan politik Thailand dalam persfektif yang luas.

Termasuk bagaimana ia memandang pentingnya integrasi Islam politik di Thailand.

Juga bagaimana pentingnya Thailand memandang dan menghargai identitas dan kedudukan Islam–terutama di Selatan Thailand.

Menarik untuk menghadirkan Surin Pitsuwan, bukan saja karena aktivitas politik dan intelektualnya tetapi juga ia hadir ketika transisi demokrasi sedang terjadi di Thailand.

Pada 1988 Surin diangkat ke pos asisten sekretaris Menteri Dalam Negeri Thailand. Dari 1992 hingga 1995 Surin Wakil Menteri Luar Negeri Thailand.

Ia menjadi Menteri Luar Negeri Thailand sejak 1997 hingga 2001.

Partai politiknya, Demokrat, yang dipimpin Chuan Leekpai, adalah partai yang berkuasa di Thailand dan Leekpai menjadi Perdana Menteri Thailand pada masa itu.

Partai Demokrat menjadi partai oposisi utama setelah partai Thai Rak Thai dipimpin Thaksin Sinawatra menjadi partai berkuasa dan dia menjadi PM Thailand.

Pada 2004 Surin ditunjuk banyak negara dan badan-badan internasional menjadi kandidat Sekretaris Jenderal PBB setelah Kofi Annan mengakhiri masa jabatannya 2004.

Namun, Pemerintah Thailand yang dipimpin Partai Thai Rak Thai tidak menyebut Surin sebagai kandidat untuk jabatan PBB itu.

Mungkin karena perbedaan partai politik antara Surin dan Takhsi.

Setelah Militer Thailand mengambilalih kekuasaan dari partai Thaksin 2006, Kabinet Thailand sementara Juli 2017 mendukung Surin menjadi kandidat Sekjen Asean, dan anggota Asean.

Negara menunjuk Surin pada jabatan itu pada 1 Januari 2008 selama lima tahun hingga 1 Januari 2013.

Pengalamannya dalam urusan luar negeri dan Sekretaris Jenderal Asean membuatnya dikenal karena gagasan dan kontribusinya bagi masyarakat Thailand dan Asean.

Setelah masa jabatannya berakhir sebagai Sekjen Asean, Partai Demokratnya kembali dikalahkan Partai Thai Rak Thai yang dipimpin Yingluck Sinawatra, saudara perempuan Takhsin.

Yingluck menjadi PM Thailand selama beberapa tahun sebelum militer Thailand merebut kekuasaan dari partainya.

Dia melarikan diri dari Thailand untuk bergabung dengan saudara lelakinya yang tinggal di luar Thailand.

Nik Aziz Nik Mat

Pertemuan saya dengan Nik aziz Nik Mat–Gubernur (di Malaysia disebut Menteri Besar) negeri Kelantan, Malaysia.

Nik Aziz adalah pemimpin Partai Islam SeMalaysia (PAS) negeri Kelantan dan juga dikenal sebagi Tok Guru (Ulama) yang mengajar di pondok (Sekolah Agama).

Politisi dan Ulama Karismatik Malaysia Nik Aziz Nik Mat. (net)

Tokoh yang memiliki nama lengkap Nik Abdul Aziz bin Nik Mat adalah sosok yang sangat disegani di  Malaysia.

Kiprahnya tidak hanya terbatas pada bidang agama, sosial, dan pendidikan, tetapi juga sangat peduli bahkan terlibat langsung dalam kancah perpolitikan Malaysia.

Nik Abdul Aziz Nik Mat, pemimpin spiritual PAS lulus dari Dar ul-lUum di Deoband pada awal 1950-an, sebelum melanjutkan studi lebih lanjut ke Universitas Al-Azhar di Mesir.

Kiprah di dunia dakwah, sosial, dan pendidikan melambungkan namanya. Ketokohannya pun menyebar di kalangan Muslim Malaysia, ter utama wilayah Kelantan.

Nik Abdul Aziz ke mu dian dicalonkan oleh PAS Kelantan untuk mempertahankan kekosongan kursi dari perwakilan parlemen dari Kelantan Hilir.

Berkat ketokohan dan kedalaman ilmu agamanya, masyarakat Islam Kelantan saat itu kemudian mempercayakan kursi itu kepada Nik Abdul Aziz pada Pemilihan Raya 1969.

Berbagai serangan pun pernah ia dapatkan ketika terjun ke dunia politik, hingga penyerangan yang dialaminya.

Hal ini karena PAS dan dirinya memiliki sikap politik yang berbeda dengan partai pemerintah, UMNO.

Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz bin Nik Mat pun diangkat menjadi Mursyidul Am partai PAS menggantikan Tuan Guru Yusuf Rawa.

Kepercayaan umat Islam dan masyarakat Malaysia kepadanya adalah modal utama keberhasilan Nik Aziz menjadi menteri besar Kelantan 1990.

Meski menjabat sebagai menteri besar, Nik Abdul Aziz tetap bersikap zuhud dan menjaga wara’nya (kehati-hatian) yang merupakan identitas seorang ulama.

Ia tak pernah menanggalkan jubah dan surban sebagai busana khasnya.

Gaya hidup para pemimpin PAS yang sederhana–sebagaimana yang ditunjukkan Nik Aziz dan tokoh lainnya  mudah didekati telah didokumentasikan secara luas

Dan memberikan kontribusi signifikan terhadap popularitas partai.

Dan agenda sosial-ekonomi PAS untuk redistribusi dan kolektivisme sosial telah sangat dihargai dibandingkan dengan korupsi yang telah mengganggu UMNO.

PAS di bawah kepemimpinan Nik Aziz Nik Mat di Kelantan tentu saja lebih kooperatif dengan LSM dibandingkan dengan pemerintah yang berkuasa.

Yang melihat yang terakhir sebagai gangguan yang tidak perlu, dan kadang-kadang bahkan tampak lebih akomodatif terhadap budaya non-Melayu.

Tokoh yang dikenal bersahaja ini mengaku memilih shalat dalam keadaan gelap ketika berada di dalam kantornya.

Hal ini ia lakukan lantaran tak ingin menggunakan uang pemerintah untuk kepentingan dirinya. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya sehari- hari sangat sederhana.

Tak jauh beda dengan kebanyakan rumah yang dimiliki masyarakat biasa. Tak ada pagar atau penjaga keamanan.

Di sela-sela aktivitasnya sebagai pejabat negara dan aktivis partai, ia tak pernah meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai ulama.

Tiap shalat Subuh ia tampil sebagai imam dan memberikan kuliah Subuh singkat di masjid yang berdekatan dengan kediamannya.

Pada Pemilihan Umum Malaysia 2013, ia bersedia melepaskan jabatannya sebagai menteri besar, namun tetap menjadi penasihat umum Partai PAS.

Pada saat-saat itu, kondisi kesehatannya terus menurun. Hingga akhirnya, Allah SWT memanggil sosok panutan ini untuk selama-lamanya. Ia wafat di rumahnya, Kampung Pula Melaka, Kota Bharu (Republika, Ahad 15 Mar 2015).

Saya mengenal beliau ketika sedang melakukan penelitian terkait dengan PAS sejak tahun 2000.

Pembawaannya yang sederhana–namun berwawasan agama dan bersosial yang cukup tinggi menarik perhatian banyak orang untuk berjumpa dengannya.

Ketika saya melakukan penelitian dan bermaksud melakukan wawancara dengannya di Kampung Pulau Melaka, Kota Bharu.

Tepatnya di masjid di dekat rumahnya yang sederhana pada waktu Shubuh, Beliau sendiri yang bertindak sebagai imam.

Masyarakat memenuhi masjid bukan saja untuk shalat tetapi juga meminta doa kepada beliau baik doa keselamatan keluarga ataupun doa kelahiran anak.

Beliau melakukan itu dengan penuh kasih dan melayani tanpa membedakan. Saya yang ketika itu mewawancara Beliau setelah Beliau memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Juga mendapatkan pelayanan yang sangat baik; sangat bersahabat dan ramah tanpa ada sekat dan jarak kekuasaan.

Beberapa kesempatan juga saya ikuti ceramah Beliau di televise ataupun langsung di acara pertemuan politik PAS.

Terakhir saya mengunjungi kediamannya 2018, untuk ziarah sebab tahun 2013 ketika Beliau meninggal, saya tidak sempat untuk berziarah.

Dua tokoh politik di atas–Surin Pitsuwan (Partai Demokrat, Thailand) dan Nik Aziz Nik Mat (PAS, Malaysia) adalah pemimpin politik.

Mereka merepresentasikan partainya dan memiliki karakter dan strategi dalam memimpin.

Mereka hadir dengan sistem sosial dan politik berbeda. Surin Pitsuwan, tokoh Muslim dari Partai Demokrat dengan mayoritas masyarakat beragama Budha di Thailand.

Di sisi lainnya, Nik Aziz Nik Mat, pemimpin PAS Kelantan, Malaysia dengan mayoritas Melayu.

Penutup
Inilah yang disebut Kepemimpinan Politik–mengacu pada kelas penguasa yang memikul tanggung jawab mengelola urusan dan sumber daya entitas politik.

Dengan menetapkan dan memengaruhi prioritas kebijakan yang mempengaruhi wilayah melalui berbagai struktur pengambilan keputusan dan lembaga yang dibuat untuk pengembangan wilayah yang teratur.

Ini juga dapat digambarkan sebagai elemen manusia yang mengoperasikan mesin pemerintah atas nama wilayah terorganisir.

*Penulis adalah Ketua Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

 

Loading...

Komentar Facebook