xxxhub
frustrated trophy mom mounts son. freeporn
tamil sex raylene fucked sana.

Pilpres Amerika, Israel dan Palestina; Kait Kelindan Kepentingan

Oleh drg. Dendy Dwirizki Gunawan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Eskalasi konflik antara Israel dan Palestina hari ini mengingatkan saya dengan tulisan yang dahulu saya buat pada Oktober 2020 saat Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika berlangsung. Pada saat itu sikap saya yang lebih Pro-Trump menimbulkan tanya bagi sebagian teman di media sosial mengapa lebih berpihak kepada orang yang rasis, memiliki lisan yang frontal, dan karakter buruk lainnya, yaitu Trump. Tentunya konstalasi politik Amerika akan berimbas pada berbagai kebijakan untuk negara-negara lain di dunia, tak terkecuali kondisi Israel dan Palestina saat ini.

Loading...

Terdapat beberapa alasan yang rasional sebagai masyarakat dunia pada saat itu mengenai keberpihakan terhadap Trump. Tulisan ini adalah insight dari literatur-literatur yang penulis baca dan kondisi menjelang Pilpres Amerika Serikat, dan bersifat personal.

Pertama, pertarungan untuk perebutan kursi Presiden Amerika Serikat mungkin lebih mudah dibaca dibandingkan Pilpres Indonesia sebab hanya terdapat dua partai yang mendominasi, Republik dan Demokrat. Tidak seperti Pilpres Indonesia yang memiliki jumlah jenis partai terlalu banyak, jumlah jenis partai kita hampir sama banyak dengan jumlah jenis bakteri di gigi. Pada Pilpres Amerika 2020, Trump mewakili Republik, dan Biden mewakili Demokrat punya karakteristiknya masing-masing.

Trump adalah bagian dari gerbong Nasionalis, artinya apapun yang dilakukannya adalah untuk kepentingan negara (Amerika), maka sejalan dengan tagline Trump pada saat itu, ‘Make America Great Again’. Hal ini dapat dikonfirmasi melalui berbagai ujaran dan cuitan Trump yang mengatakan bahwa dirinya adalah nasionalis dan menentang serta mengecam globalis. Sementara Biden adalah representatif gerbong Globalis, artinya apapun yang dilakukannya, adalah untuk kepentingan elit global, mereka tak peduli dengan kepentingan negara, kepentingan negara adalah kepentingan kedua. Globalis akan bersikap “bodo amat” dengan urusan negara, yang penting agenda mereka terlaksana. Gerbong globalis lebih “cair”, tak terikat dengan kepentingan negara. Borderless. Lantas apa bedanya?

Nasionalis biasanya lebih concern dengan urusan negaranya sendiri, enggan mengurus negara-negara lain. Kalau istilah anak Medan,”Terserah mau jungkir balik bantai kalian yang penting negaraku maju.” Sementara globalis, memiliki grand design untuk memonopoli negara-negara lain sebagai implementasi dari tujuan utamanya, mewujudkan New World Order.

Kedua, jika Presiden Amerika Serikat berasal dari gerbong Globalis, kondisi dunia bisa saja menjadi tidak stabil. Siapa saja Globalis itu selain Biden? Berdasarkan tulisan Hank Sullivan yang berjudul “Nationalism vs Globalism”, beberapa tokoh globalis adalah Bush Jr., Obama (termasuk istrinya), Clinton, bahkan termasuk George Soros. Siapa yang tidak mengenal George Soros? Sosok yang diisukan sebagai aktor dan biang kerok terjadinya krisis moneter pada tahun 1998.

Salah satu contoh, mari kita perhatikan saat Bush Jr. memegang tampuk kekuasaan, perang di belahan bumi Asia terjadi berkepanjangan. Mereka ciptakan kondisi seakan-akan Amerika diserang (9/11), sehingga Amerika punya alasan untuk memukul balik negara-negara di Timur Tengah. Seketika dahulu Irak dihajar. Terjadi perang berkepanjangan. Apa kepentingannya? Banyak. Bisa jadi minyak/oil, bisa jadi bisnis senjata, dan lain sebagainya. Ketika negara-negara Arab membela diri mereka dicap teroris. Namun ketika Amerika yang memborbardir, mereka katakan demi keamanan nasional. Tentunya hal ini menjadi double standard yang menimbulkan pertanyaan besar. Hal ini selaras dengan yang dipaparkan oleh Noam Chomsky dalam bukunya yang berjudul “How the World Works” dan “Who Rules the World”

Selain itu, globalis biasanya memainkan perannya dengan lebih “kotor”. Misal, dahulu sebelum hari Pemilihan Presiden Amerika isu Black Lives Matter mencuat, tentunya tak bisa dihindarkan dari asumsi bahwa isu tersebut hanya permainan politik dari kubu Biden untuk “memukul” Trump. Dengan karakter Trump yang memang rasis (anti-Imigran), plus kubu Biden yang sebagian besar terdiri dari ras kulit berwarna, tentunya isu tersebut adalah sasaran empuk. Isu rasial adalah metode yang tepat. Jika dipikir-pikir, bagaimana mungkin kematian satu dua orang yang diakibatkan aparat kulit putih, menyebabkan huru-hara di seluruh dunia, bahkan sampai ke Indonesia. Isu tersebut terkesan disusun secara sistematis, masif, dan terstruktur. Jika kita mau adil dan objektif, berapa banyak kejadian seperti itu juga terjadi di negara kita dari Orde Lama (Orla) sampai sekarang? Kebanyakan kita diam saja. Pikiran dan sikap kita mendua. Atau misal di Timur Tengah (Timteng), berapa ribu nyawa manusia hilang di Palestina karena ulah Israel? Rasis (re: Trump) memang tak baik, namun memanfaatkan isu rasial untuk mendulang suara itu jahat (re: Biden)

Kemudian, dari segi karakter, Trump terlihat lebih apa adanya. Ia rasis, ia tunjukkan, apa yang tak ia suka, ia suarakan. Trump adalah wajah Amerika sesungguhnya. Berbeda dengan Biden, packaging-nya saja seakan bagus, ternyata boroknya lebih banyak. Sebagai umat Muslim, musuh seperti Trump itu lebih bagus daripada seperti Biden. Biden lebih munafik, sulit dibaca. Trump is the lesser evil. Sayangnya pada saat Pilpres Amerika Serikat di tahun 2020, di saat tulisan ini dibuat, banyak kalangan Islam yang simpatik dengan Biden hanya karena ia mengutip Hadits dan menunjukkan gimmick Pro-Islam. Pertanyaannya, apakah hanya dengan mengutip suatu Hadits, maka itu merupakan wujud dari keberpihakan terhadap Islam? Ternyata tidak, sang rubah telah menanggalkan jubahnya.

Kembali ke poin kedua yang penulis jabarkan di atas, saat ini ketidakstabilan dan perang tersebut semakin meningkat. Hal ini menjadi benang merah untuk ketiga elemen yang penulis tuliskan pada judul; Pilpres Amerika, Israel dan Palestina. Kita tidak bisa memungkiri bahwa hampir di seluruh belahan bumi, Amerika selalu campur tangan dengan urusan-urusan negara lain utamanya di bawah kepemimpinan seorang globalis, yaitu Biden.

Sebagaimana berita yang dilansir oleh Fox News pada 17 Mei 2021, Pemerintahan Biden menyetujui penjualan senjata kepada Israel senilai 735 USD yang ditentang oleh Kongres Demokrat. Diketahui bahwa pemerintah Biden memberitahukan kepada Kongres secara resmi pada tanggal 5 Mei 2021, tanggal tersebut berdekatan dengan penetapan Hamas, yang mengendalikan Jalur Gaza, sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat. Tentunya hal ini semakin mengafirmasi syak wasangka bahwa ketika globalis berada di tampuk kekuasaan Amerika Serikat, perang senjata di negara lain semakin parah. Selaras dengan apa yang ditulis oleh Chomsky pada bukunya, sebagai negara adidaya, Amerika tak pernah terlepas dari urusan perang, kontalasi politik, bahkan kudeta oleh militer yang terjadi pada negara lain. Amerika adalah inti dari kebanyakan tragedi yang terjadi di dunia, salah satunya sebagai pemasok senjata. Amerika di bawah pemimpin globalis terus memberi asupan amunisi untuk membunuh rakyat Palestina.

Akhir kata, lebih baik Amerika memiliki Presiden yang kegemarannya perang dagang, daripada presiden yang kegemarannya perang senjata seperti sekarang. Lebih baik Amerika dipimpin Presiden yang lebih senang mengurusi negaranya sendiri daripada presiden yang memberi amunisi kepada Israel untuk membasahi Palestina dengan darah. []

drg. Dendy Dwirizki Gunawan,  dokter gigi, alumni HMI, tinggal di kota Medan Sumatera Utara.

Loading...

Komentar Facebook

sex videos
sex videos amateur babe tugs and sucks cock outdoors.
phim sex hay