Upacara Pujawali ke-17 di Pura Agung Jagat Benuanta Tanjung Selor

Rabu, 5 November 2025

PUBLIKA TANJUNG SELOR-Pada hari Rabu, 5 November 2025, Bertepatan dengan Purnama Kelima menurut penanggalan Tahun Caka, umat Hindu Kabupaten Bulungan menyelenggarakan puncak Upacara Pujawali yang ke-17 di Pura Agung Jagat Benuanta, Tanjung Selor. Upacara yang sakral dan penuh makna ini merupakan momentum penting dalam kalendar keagamaan umat Hindu di Kalimantan Utara untuk memperingati hari lahir Pura Agung yang telah berdiri sejak 2003 dan diresmikan penggunaannya pada 17 Juli 2008.

Pura Agung Jagat Benuanta merupakan satu-satunya pura yang terletak di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Utara, tepatnya di Jl. Agatis, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Keberadaan Pura ini menjadi pusat ibadah dan pengembangan spiritual bagi umat Hindu di wilayah yang sedang berkembang ini.

Upacara Pujawali digelar setiap tahun pada bulan Purnama sasih Kelima sesuai Kalender Caka, biasanya jatuh pada bulan Oktober atau November. Penetapan tanggal Purnama Kelima sebagai hari pelaksanaan Pujawali mulai diberlakukan pada tahun 2009, menggantikan perayaan yang awalnya dilaksanakan pada tanggal peresmian di bulan Juli.

Pujawali berasal dari gabungan kata “puja” yang berarti memuja, dan “mewali” yang berarti kembali. Secara esensial, Pujawali bermakna memuja kembali keagungan Tuhan dalam prabawa-Nya sebagai Ida Betara yang disembah di pura ini. Pujawali merupakan salah satu bentuk rasa syukur umat Hindu atas anugerah dan karunia yang dilimpahkan selama ini, sekaligus memohon perlindungan dan berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca juga  Ini Nama Pejabat Kejati Kalimantan Utara

Upacara Pujawali juga dikenal dengan nama lain seperti Piodalan, Petirtan, atau Petoyan, termasuk kategori Upacara Dewa Yadnya yang dilakukan secara rutinitas periodik berdasarkan perhitungan kalender sasih (setahun sekali) atau wuku (setiap 210 hari). Tema Pujawali ke-17 tahun ini mengangkat pesan spiritual “Melalui Pujawali kita laksanakan Satyam, Siwam, Sundaram” yang berarti kebenaran, kesucian, dan keindahan sebagai landasan peningkatan srada dan bhakti guna mewujudkan keharmonisan dan kebahagiaan dalam hidup.

Pelaksanaan Pujawali pada hari itu sudah dimulai sejak pukul 07.00 pagi dengan prosesi awal Matur Piuning yang dipimpin oleh Pinandita Dewa Nyoman Rai. Prosesi ini merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur dan dewa.

Selanjutnya, pada sore hari dilakukan prosesi Mohon/Nunas Tirta, yakni pengambilan air suci dari sumber mata air di sekitar pura yang akan digunakan dalam rangkaian upacara ibadah selanjutnya. Dilanjutkan dengan Upacara Pecaruan, suatu ritual pembersihan alam sekitar dari energi negatif sekaligus menjaga keseimbangan antara manusia dan alam secara niskala agar proses Pujawali dapat berjalan suci dan lancar.

Baca juga  Ringannya Hukuman Narkoba di Kaltara,” Perlukah Evaluasi Sistem Peradilan?

Setelah semua sesajen dan banten (persembahan) bertempat di pelinggih masing-masing, Pinandita melaksanakan upacara puja disertai tabuh genta, kidung suci, dan tabuhan lelembatan yang menambah khidmat suasana. Prosesi dilanjutkan dengan Nedunang dan Ngelinggihang Ida Betara, diikuti dengan Purwa Daksina, yaitu mengelilingi pelinggih Pura di Mandala Utama sebanyak tiga kali searah jarum jam. Keindahan prosesi ini kian sempurna dengan tarian tradisional Pendet Pemendak yang ditampilkan oleh ibu-ibu.

Pinandita juga memohon keberkahan kepada Tuhan melalui Tirtha (air suci), yang kemudian digunakan untuk menyucikan semua sesaji dan pelinggih. Sesi inti Pujawali yakni Ngaturang Pujawali dilakukan dengan penuh khidmat, dimana umat bersama-sama menghaturkan persembahyangan meliputi Puja Trisandya dan Panca Sembah. Acara ini diisi dengan Dharma Wacana oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Kalimantan Utara.

Upacara diakhiri dengan Paramashanti, doa penutup yang memancarkan kedamaian dan ketenteraman. Setelah itu, seluruh umat diberikan kesempatan untuk istirahat dan melanjutkan makan malam bersama. Sebagai hiburan dan pelengkap acara, anak-anak Pasraman Widya Benuanta mempersembahkan tarian yang mempesona.

Baca juga  Penertiban Parkir di Depan Gedung Gadis Jalan Rambutan Tanjung Selor.” Ini Kata  Kasat Lantas 

Ketua Parisada Hindu Dharma Kalimantan Utara, Ida Bagus Sidharaharja, menyampaikan harapannya agar upacara Pujawali ke-17 ini dapat menjadi momen refleksi spiritual bagi seluruh umat Hindu, memperkuat niat dalam melaksanakan srada (kepercayaan) dan bhakti (pengabdian) yang tulus.

Melalui pelaksanaan Pujawali, umat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai Satyam, Siwam, Sundaram—kebenaran, kesucian, dan keindahan—yang menjadi landasan utama dalam menjaga keharmonisan hidup antar sesama manusia, dengan alam, serta dengan Sang Maha Pencipta.

Ida Bagus Sidharaharja juga mengajak seluruh umat untuk terus meningkatkan persatuan dan kebersamaan, memupuk kerukunan antar umat beragama, serta senantiasa memohon anugerah dan perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar wilayah Kalimantan Utara selalu dilimpahi damai dan kesejahteraan.

Upacara Pujawali ke-17 di Pura Agung Jagat Benuanta tidak hanya menjadi tradisi keagamaan yang sakral tetapi juga refleksi kultural yang melekat pada identitas umat Hindu di Bulungan. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana mempererat ikatan sosial serta meningkatkan kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian agama dan budaya ujar drg.Bagus Mantan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan Kepada Media Publika.

Reporter: Gus Rahadia

.

Bagikan:
Berita Terkait