TANJUNG SELOR – Para peternak di Kabupaten Bulungan khususnya ternak unggas seperti ayam petelur, ayam ras potong, bebek dan lainnya mengeluh.
Pakannya yang berupa jagung kering tidak mudah didapatkan dipasaran.
Salah satu peternak di Tanjung Palas, Bakri misalnya mengeluhkan harga pakan jagung yanh mahal. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus merogoh kantong lebih dalam.
“Kami butuh bantuan pemerintah agar pakan jagung, mudah kami dapatkan. Misalnya lewat jalur Bulog,” ucapnya.
Jika di pasaran harga bisa diatas 10 ribu rupiah, jika di Bulog bisa didapat harga yang lebih murah.
Begitu juga dirasakan peternak ayam di Tanjung Selor, Stefani. Pakan jagung diwilayahnya juga sulit diperoleh. Padahal jika lewat Bulog bisa saja didapatkan, apalagi prosedur terkait perizinan yang dimilikinya lengkap.
“Kata Bulog, untuk wilayah kita jagung tidak dapat disalurkan. Karena harus melalui penugasan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bulog Tanjung Selor, Novianto membeberkan jumlah stok jagung kering yang tersimpan di gudang Bulog mencapai 22 ton. Itu diperoleh dan dibeli dari para petani yang ada di Kabupaten Bulungan.
“Baru penyerapan (membeli jagung dari petani) di Desa Kelubir, Tanjung Palas Utara,” ungkap Novianto.
Hanya saja untuk menjualnya kembali ke masyarakat tidak bisa dilakukan. Pasalnya jagung yang dibeli oleh Bulog adalah penugasan dari pemerintah pusat yakni Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Untuk jagung yang dibeli Bulog adalah penugasan dari pemerintah, sehingga penjualannya juga berdasarkan penugasan,” terangnya.
Kata dia, penjualannya untuk se Kalimantan dan adanya hanya di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Sementara penjualan untuk wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) masih menunggu izin penyaluran dari Bapanas.
“Kemarin, saya ada info ke Dinas Pertanian untuk mendata peternak yang membutuhkan jagung, yang nantinya akan coba diusulkan oleh Dinas Pertanian Provinsi Kaltara agar bisa memperoleh jagung dari Bulog,” pungkasnya.





