Supervisi Ketat Dimulai, Dinkes Bulungan Pastikan Tak Ada Lagi Layanan Asal Jalan

Senin, 27 April 2026

TANJUNG SELOR – Alarm keras kembali dibunyikan. Di tengah ancaman stunting, angka kematian ibu dan bayi, hingga persoalan kesehatan reproduksi remaja, Dinas Kesehatan menegaskan satu hal: sistem pelayanan tak boleh lagi berjalan terpisah.

Hal itu mencuat dalam kegiatan Koordinasi Implementasi Jejaring dan Supervisi Fasilitatif Layanan dan Program Gizi, KIA, dan Kespro Tahun 2026 yang digelar di Kabupaten Bulungan.

Dalam sambutannya, drg.Imam Sujono Kepala Dinas Kesehatan menekankan bahwa kesehatan ibu dan anak, gizi, serta kesehatan reproduksi bukan sekadar program rutin melainkan fondasi masa depan daerah.

“Pelayanan kesehatan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Jejaring harus hidup, rujukan tidak boleh tersendat. Ini soal keselamatan pasien,” tegasnya.

Persoalan gizi masih menjadi sorotan utama. Bahkan, para pakar menyebut banyak anak Indonesia mengalami “kelaparan tersembunyi” akibat kekurangan vitamin dan mineral meski terlihat sehat. 

Tak hanya itu, kekurangan gizi juga berpotensi memicu berbagai komplikasi kesehatan serius jika tidak ditangani sejak dini. Pemerintah pun terus menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak dini, karena berkaitan langsung dengan risiko stunting dan kualitas pertumbuhan anak. 

Dalam forum tersebut, ditekankan bahwa Puskesmas sebagai garda terdepan harus terhubung kuat dengan rumah sakit, klinik, hingga praktik mandiri.

“Jejaring bukan soal siapa kenal siapa. Ini tentang sistem yang bekerja tanpa sekat,” menjadi pesan kuat yang digaungkan.

Melalui pendekatan supervisi fasilitatif, pengawasan tidak lagi berorientasi mencari kesalahan, melainkan membedah hambatan di lapangan dan langsung memberikan solusi nyata.

Tak hanya wacana, Kepala Dinas Kesehatan juga memberikan tiga instruksi tegas kepada seluruh peserta. Program harus terintegrasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri

Harus ada hasil nyata bukan sekadar laporan rapat. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan dasar sekaligus mempercepat penurunan stunting dan angka kematian ibu serta bayi.

Kegiatan ini disebut bukan sekadar agenda rutin, melainkan titik tekan perubahan sistem layanan kesehatan di daerah.

Dengan resmi dibukanya kegiatan koordinasi ini, harapannya satu: pelayanan kesehatan di Bulungan benar-benar terintegrasi, responsif, dan menyentuh masyarakat hingga ke lapisan terbawah ujar Imam. (MD)

Bagikan:
Berita Terkait