PUBLIKA – BULUNGAN. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai menunjukkan dampak terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan mencatat sebanyak 3.453 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga minggu ke-36. Angka tersebut menjadi perhatian serius, terlebih kondisi kualitas udara dalam beberapa hari terakhir berada pada kondisi yang sangat tidak baik.
Kepada Media Publika, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan, drg. Imam Sujono, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, terutama kelompok yang dinilai lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara.
Menurutnya, anak-anak, khususnya anak usia prasekolah dan anak sekolah, merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Paparan udara yang tercemar asap Karhutla dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.
“Anak-anak prasekolah dan anak sekolah sangat rentan terhadap penyakit ISPA. Karena itu, kalau kondisi udara sedang tidak baik, sebaiknya anak-anak betul-betul belajar dari rumah dan tidak bermain di luar rumah,” imbau Imam.
Ia juga menyarankan pihak sekolah turut mengambil langkah untuk mengurangi aktivitas anak di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.
Salah satunya dengan memberikan tugas pembelajaran kepada peserta didik untuk dikerjakan dari rumah. Dengan demikian, anak-anak tetap dapat mengikuti proses belajar tanpa harus terpapar langsung kabut asap di luar ruangan.
“Kalau memungkinkan, dari sekolah diberikan tugas-tugas kepada anak didik, sehingga anak-anak tidak perlu keluar rumah dan tetap bisa belajar dari rumah,” ujarnya.
Dinkes Bulungan terus melakukan pemantauan perkembangan kasus ISPA sekaligus kondisi kesehatan masyarakat sebagai bagian dari langkah mitigasi dampak Karhutla.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel dari asap.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan apabila mulai muncul keluhan kesehatan seperti batuk, sesak napas, tenggorokan terasa tidak nyaman atau gangguan pernapasan lainnya.
Masyarakat diminta segera mendapatkan pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan yang semakin berat.
Dampak Karhutla terhadap kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Penanganannya membutuhkan sinergi pemerintah daerah, sekolah, orang tua, masyarakat dan seluruh lintas sektor.
Dengan kondisi udara yang masih dipengaruhi kabut asap, perlindungan terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak, menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas.
Reporter: Bli Made





