Dahulu Kegelapan, Kini Jadi Terang,Pesan Mendalam Pendeta Oktovianthinno untuk Jemaat El Bethel

Minggu, 16 Agustus 2026

PUBLIKA TANJUNG SELOR — Pesan untuk menjalani kehidupan dengan penuh kasih, kebaikan dan kebenaran disampaikan Pendeta Oktovianthinno ESRWA, RO, S.Th., kepada jemaat Gereja GPSI El Bethel Tanjung Selor dalam ibadah Minggu, 16 Agustus 2026.

Kepada Media Publika Dalam khotbahnya, Pendeta Oktovianthinno mengangkat tema dari Efesus 5:1-2, 8-11, 20-21 (TB). Firman tersebut mengingatkan setiap orang percaya agar menjadikan kehidupan Yesus Kristus sebagai teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Mengawali pesan firman, jemaat diajak untuk menjadi penurut-penurut Allah sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya.

Kehidupan orang percaya, menurut pesan tersebut, tidak cukup hanya diwujudkan melalui ibadah. Kasih kepada Tuhan juga harus terlihat melalui sikap dan perbuatan terhadap sesama.

“Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kasih Kristus merupakan dasar kehidupan orang percaya. Kasih bukan hanya sesuatu yang diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian, pengampunan, kesabaran dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bagian penting dalam khotbah tersebut adalah perubahan kehidupan manusia dari kegelapan menuju terang.

Dalam Efesus 5 disebutkan bahwa dahulu manusia adalah kegelapan, tetapi sekarang telah menjadi terang di dalam Tuhan.Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang.

Menjadi anak-anak terang berarti menghadirkan kehidupan yang menghasilkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pemahaman dalam hati, tetapi benar-benar terlihat dalam kehidupan keluarga, lingkungan gereja maupun masyarakat.

Kehidupan sebagai anak-anak terang juga berarti memiliki keberanian untuk meninggalkan berbagai tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Jemaat diingatkan agar tidak ikut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak menghasilkan kebaikan.

Sebaliknya, orang percaya harus mampu menunjukkan kehidupan yang berbeda dan menjadi kesaksian melalui sikap serta perbuatannya.

Mengucap Syukur dalam Segala Keadaan

Selain mengajarkan tentang kasih dan kehidupan sebagai anak-anak terang, firman Tuhan juga mengingatkan jemaat untuk senantiasa mengucap syukur.

Dalam kehidupan, tidak semua keadaan berjalan sesuai dengan harapan. Ada sukacita, tetapi ada pula tantangan, persoalan dan pergumulan.

Namun, melalui Efesus 5:20, umat Tuhan diajak untuk tetap mengucap syukur dalam segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa.

Sikap bersyukur menjadi bagian penting dalam kehidupan iman karena mengajarkan seseorang untuk tetap melihat kebaikan Tuhan di tengah berbagai keadaan.

Rasa syukur juga dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi setiap persoalan dengan hati yang tetap percaya kepada Tuhan.

Belajar Rendah Hati terhadap Sesama

Pesan firman kemudian ditutup dengan ajakan untuk membangun hubungan yang dilandasi kerendahan hati.

Efesus 5:21 mengingatkan, “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Tuhan.” Pesan ini menjadi penting dalam kehidupan bersama. Tidak ada manusia yang sempurna. 

Karena itu, hubungan dengan keluarga, pasangan, saudara seiman maupun masyarakat membutuhkan sikap saling menghargai, memahami dan mengutamakan kasih.

Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan kesediaan untuk menghargai orang lain dan tidak selalu memaksakan kehendak pribadi.

Melalui khotbah tersebut, jemaat Gereja GPSI El Bethel Tanjung Selor diajak untuk membawa pesan firman Tuhan keluar dari gereja dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Menjadi anak-anak terang berarti menghadirkan kebaikan ketika orang lain membutuhkan, memilih kebenaran ketika berada dalam tekanan, tetap mengasihi ketika menghadapi perbedaan, serta senantiasa bersyukur atas penyertaan Tuhan.

Dengan demikian, kehidupan orang percaya diharapkan tidak hanya terlihat dalam aktivitas keagamaan, tetapi juga melalui karakter dan perbuatan yang dapat menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, pesan Efesus 5 mengajak setiap jemaat untuk terus bertumbuh dalam kasih Kristus, meninggalkan kehidupan yang tidak berkenan kepada Tuhan, serta menghadirkan kebaikan, keadilan dan kebenaran sebagai wujud nyata iman dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter: Made Wahyu Rahadia 

Bagikan:
Berita Terkait