TANJUNG SELOR,-Dalam lintasan sejarah, Nabi Muhammad tidak hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga negarawan ulung yang mengedepankan diplomasi dan perdamaian. Salah satu momen penting yang kerap menjadi rujukan adalah perjanjian damai dengan komunitas Kristen dari Najran sebuah kisah yang menegaskan wajah Islam yang inklusif dan penuh toleransi.
Ahmad Suyuti, S.Pd.I M.Pd Alias Bonchu, Merujuk buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam karya Raghib as-Sirjani (2011), pada masa akhir kehidupannya, Nabi Muhammad menjalin hubungan dengan beberapa kelompok umat Kristen. Salah satu yang paling dikenal adalah dengan delegasi dari Najran.
Kala itu, Nabi Muhammad mengundang mereka ke Madinah. Delegasi yang datang berjumlah beragam dalam riwayat, ada yang menyebut 14 orang, ada pula hingga 60 orang, dengan puluhan di antaranya merupakan cendekiawan Kristen. Rombongan ini dipimpin oleh tiga tokoh penting, Al-Aqib sebagai pemimpin utama, As-Sayyid sebagai pengatur perjalanan, dan Abul Harits sebagai pemuka agama.
Setibanya di Madinah, mereka disambut dengan terbuka. Dialog pun berlangsung intens. Mulai dari perdebatan teologi, status Nabi Isa, hingga persoalan sosial-politik.
Namun, dialog itu tidak berujung pada kesepakatan dalam hal keyakinan. Delegasi Najran menolak ajakan masuk Islam. Dalam konteks kekuasaan saat itu, Nabi Muhammad sejatinya memiliki posisi yang sangat kuat. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, bukan konfrontasi, melainkan rekonsiliasi.
Di akhir pertemuan, lahirlah sebuah perjanjian damai yang monumental. Isinya menegaskan jaminan keamanan, kebebasan beragama, serta perlindungan penuh terhadap pemimpin dan tradisi keagamaan umat Kristen Najran. (MD)





