PUBLIKA TANJUNG SELOR – Nama Islamadina Tinom Arsh, panggilan akrabnya Madina usianya baru 7 tahun bersekolah di SD Indo Tionghoa Tarakan dan masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.
Madina dipercaya oleh sekolahnya untuk mengikuti Lomba Sains tingkat Nasional yang diadakan oleh KOSSMI (Kompetisi Sains Siswa Muslim Indonesia).
“Lombanya dilaksanakan tanggal 10-12 Mei 2025 di Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor-Jawa Barat dengan sistem tes Paper Based Test dengan soal full isian dan essay,” ungkap orang tuanya.
Kompetisi yang dilaksanakan ada banyak bidang Sains dan Teknologi yaitu bidang Robotik, IPA, Matematika, Kimia, Fisika. Bidang pelajaran yang Madina ikuti adalah mata pelajaran IPA.
“Sebelum babak final, ada 2 kali penyisihan dan Madina terpilih menjadi finalis tingkat nasional untuk mewakili Provinsi Kaltara dan saat final di IPB Bogor Madina berhasil meraih medali Honorable Mention dalam bidang sains IPA,” ujarnya.
Apa yang membuat keluarga mendukung Madina untuk ikut kompetisi sains di usia yang masih sangat muda? Orang tua Madina menjawab karena Madina dari kecil suka sains, rasa ingin tahunya yang besar terhadap dunia mendorong kami selaku orang tua untuk mendukungnya dalam mendalami ilmu sains.
“Sejak usia 3 tahun Madina sudah banyak bertanya tentang alam semesta dan peristiwa2 alam seperti mengapa ada hujan, mengapa kaca mobil bisa berembun, dan peristiwa sains lainnya di kehidupan sehari-hari yang dia lihat,” tuturnya.
Bagaimana peran keluarga dalam mempersiapkan Madina menghadapi kompetisi tingkat nasional ini?
“Kebetulan ini hal pertama bagi kami, jadi persiapannya dengan seadanya, membelikan buku² soal IPA lalu belajar di rumah bersama bundanya,” ucapnya.
Sementara itu, untuk Madina. Bagaimana perasaan Madina saat tahu lolos sebagai finalis nasional mewakili Kaltara?
“Seneng banget, gak nyangka Madina menjadi perwakilan Kaltara,” ungkap Madina.
Hal apa yang paling seru atau menantang dari soal-soal IPA di kompetisi KOSSMI?
“Hampir semua soalnya menantang karena banyak soal terbaru yang belum dipelajari,” terangnya.
Bagaimana Madina biasanya belajar IPA di sekolah atau di rumah?
“Kalau di sekolah pelajaran sains masih sedikit, jadi Madina banyak belajar di rumah dengan membaca buku-buku sains dan ensiklopedia,” tutupnya. (rdi)





