PUBLIKA TANJUNG SELOR – Asap mengepul tebal di langit Bulungan, Di tengah panas yang menyengat, puluhan anggota polisi berdiri di antara kobaran api, Baju mereka basah oleh keringat. Wajah mereka terpapar asap Napas mereka bercampur dengan udara yang tidak lagi segar.
Namun mereka tetap bertahan Ketika warga diminta menjauh dari lokasi kebakaran, mereka justru bergerak mendekat, Ketika api membesar, mereka maju, Ketika bara kembali menyala, mereka kembali menyiramnya Dan ketika malam tiba, pekerjaan belum selesai.
Di balik perjuangan itu, ada kabar yang menyentuh hati, Direktur Samapta Polda Kalimantan Utara Kombes Pol. Andreas Deddy Wijaya, yang turut terlibat dalam penanganan Karhutla, kini harus menjalani perawatan di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor.
Sang komandan yang sebelumnya berada di tengah kepungan asap dan panas, kini harus terbaring di ruang perawatan, Tidak lagi berdiri di tengah lahan terbakar, Tidak lagi memegang peralatan pemadaman, Tidak lagi mendengar suara mesin pompa dan teriakan anggota di lokasi.
Kini, tubuhnya membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi, Mereka Mendekati Api, Saat Orang Lain Menjauh Minggu (13/9/2026), Direktorat Samapta Polda Kaltara bergerak cepat menangani Karhutla di Desa Gunung Sari dan Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan.
Di Desa Gunung Sari, area terdampak diperkirakan mencapai 13 hektare. Di Desa Apung, sekitar 6 hektare lahan terdampak kebakaran, Puluhan personel dikerahkan Polisi, TNI, BPBD, KPH dan Manggala Agni berada di lokasi yang sama, bekerja menghadapi musuh yang tidak mudah ditaklukkan Api, Asap, Gambut, Rawa, Semak belukar Dan medan yang sulit ditembus Di Desa Gunung Sari, tidak ada akses langsung menuju titik api.
Personel harus berjalan kaki sekitar 300 meter Peralatan pemadaman dibawa dengan tenaga mereka sendiri, Setiap langkah dilakukan di tengah kondisi medan yang berat Mereka membawa selang Membawa peralatan.
Membawa harapan agar api tidak semakin meluas Air dari rawa dimanfaatkan dengan floating pump. Selang pemadam dibentangkan menuju titik api Air disemprotkan Bara didinginkan Asap terus mengepul, Mereka tetap bertahan Ketika Tubuh Mulai Lelah, Tugas Belum Selesai
Pekerjaan memadamkan Karhutla bukan hanya soal mematikan api Setelah api terlihat padam, personel masih harus melakukan penyisiran Mencari bara yang mungkin tersembunyi di balik gambut.
Memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala, Sebab satu bara kecil bisa menjadi kebakaran besar, Sekitar pukul 19.00 WITA, ketika malam mulai turun, personel kembali bergerak menuju Desa Apung.
Api masih terlihat di beberapa bagian lahan Medan kembali menyulitkan Titik api utama belum dapat dijangkau karena tidak tersedia akses masuk, Namun mereka tidak begitu saja meninggalkan lokasi Pemadaman dan pendinginan dilakukan di area yang masih bisa dijangkau.
Mereka berjaga, Mereka memantau, Mereka menunggu, Sementara asap terus menyelimuti udara, Ada Keluarga yang Menunggu Mereka Pulang Di balik seragam yang dikenakan para anggota itu, ada manusia biasa.
Ada seorang suami, Ada seorang ayah Ada seorang anak, Ada keluarga yang mungkin malam itu menunggu kabar, Menunggu telepon Menunggu pintu rumah terbuka Menunggu orang yang mereka cintai pulang membawa tubuh yang masih sehat.
Tetapi tugas sering kali membuat mereka harus menunda kepulangan, Bagi seorang polisi yang berada di lokasi Karhutla, keselamatan masyarakat menjadi alasan untuk tetap bertahan.
Namun bagi keluarga mereka, keselamatan itu adalah satu-satunya hal yang mereka harapkan Tidak perlu penghargaan Tidak perlu sorotan Mungkin mereka hanya ingin satu hal pulang dengan selamat.
Dan di tengah perjuangan itulah, Kombes Pol. Andreas Deddy Wijaya akhirnya harus mendapatkan perawatan medis Kabar tersebut menjadi pengingat bahwa mereka yang selama ini berdiri di depan untuk melindungi masyarakat juga memiliki batas kemampuan tubuh.
Mereka bisa kelelahan, Mereka bisa jatuh sakit, dMereka bisa membutuhkan pertolongan Sementara Asap Terus Menyerang Karhutla bukan hanya membakar lahan. Asapnya ikut masuk ke rumah-rumah warga Masuk ke sekolah, Masuk ke tempat kerja Masuk ke dalam setiap tarikan napas.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan mencatat 3.453 kasus ISPA hingga minggu ke-36, Kondisi kualitas udara yang dalam beberapa hari terakhir berada pada kondisi sangat tidak baik membuat persoalan ini semakin memprihatinkan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan drg. Imam Sujono mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, khususnya bagi kelompok rentan.

Namun ada ironi di balik semua itu, Masyarakat diminta mengurangi paparan asap, Sementara para petugas justru harus masuk ke dalam kepulan asap untuk menghentikan sumbernya, Mereka tidak bisa memilih udara yang ingin mereka hirup, Mereka tidak bisa memilih lokasi yang aman, Mereka hanya bisa memilih untuk tetap menjalankan tugas.
Siapa yang Menjaga Mereka? Pertanyaan ini mungkin sederhana. Tetapi menjadi begitu berarti ketika seorang anggota yang bertugas memadamkan api akhirnya harus mendapatkan perawatan. Siapa yang memastikan kondisi mereka?
Siapa yang memikirkan kesehatan mereka setelah berjam-jam menghirup asap? Siapa yang memastikan mereka memiliki perlindungan yang cukup ketika harus berdiri paling dekat dengan api?
Dan ketika seorang komandan sampai terbaring di rumah sakit setelah terlibat dalam penanganan Karhutla, harapan terbesar tentu bukan sekadar agar api segera padam, Tetapi agar seluruh personel yang berada di garis depan juga pulang dalam keadaan selamat.
Sebab di balik setiap seragam yang basah oleh keringat, ada keluarga yang menunggu Di balik setiap wajah yang terkena asap, ada orang-orang tercinta yang berharap mereka baik-baik saja Dan di balik setiap langkah menuju titik api, ada risiko yang harus mereka tanggung Mereka datang ketika api berkobar Mereka bertahan ketika asap semakin pekat.
Mereka mendekat ketika orang lain harus menjauh, Kini, ketika salah satu dari mereka harus terbaring di rumah sakit, mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan melihat perjuangan itu dari sisi yang berbeda, Bukan hanya sebagai tugas seorang polisi Tetapi sebagai perjuangan seorang manusia yang rela mempertaruhkan kesehatan demi melindungi manusia lainnya.
Semoga Kombes Pol. Andreas Deddy Wijaya segera diberikan kesembuhan dan kekuatan Dan semoga seluruh personel yang masih berjibaku di tengah Karhutla selalu dalam perlindungan Tuhan Karena mereka mungkin tidak meminta banyak Mereka hanya ingin api padam, masyarakat selamat, dan suatu hari nanti bisa pulang kembali ke rumah.
Penulis: Bli





