Pernah Hidup di Jalanan, Kini Hanya Ingin Kamu Hidup Bahagia

Selasa, 28 Juli 2026

TANJUNG SELOR-Sejak hari pertama menggendongmu, Bapak diam-diam mengubur banyak mimpinya sendiri. Bukan karena Bapak tidak ingin mengejarnya, tetapi karena sejak kamu lahir, semua mimpi itu berubah menjadi satu melihatmu hidup lebih baik daripada Bapak.

Biar kamu tahu, Nak Bapak tumbuh tanpa ayah dan ibu. Saat Bapak masih duduk di kelas 1 SD, berusia sekitar enam tahun pada 1985, keduanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Hingga hari ini, tahun 2026, orang yang bertanggung jawab atas peristiwa itu tak pernah ditemukan.Mungkin memang ada keadilan yang hanya Tuhan yang mampu menegakkannya.

Sejak saat itu, hidup Bapak berubah. Bapak dibesarkan oleh kakek dan nenek. Kakek hanya seorang sopir bendi. Penghasilannya pas-pasan, tetapi kasih sayangnya tidak pernah kurang.

Kehidupan jalanan kemudian menjadi sekolah yang paling keras juga, Pernah di Keroyok orang tapi waktu itu tapi bapak masih hidup kala itu dan tidak ada luka sama sekali, mungkin Tuhan masih sayang.

Tidak ada yang mengajari mana jalan yang benar dan mana yang salah. Dalam perjalanan itu, Bapak pernah dua kali merasakan dinginnya sel tahanan di Rutan Negara, Jembrana Bali. Sekali karena kasus perusakan restoran Papin di Sebual , dan sekali lagi karena perkelahian menikam leher Security Coca- cola  yang membuat Bapak harus mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri kembali ke Rutan.

Semua itu bukan sesuatu yang Bapak banggakan. Justru itulah luka yang ingin Bapak jadikan pelajaran agar  tidak pernah mengulanginya.

Dulu, untuk bertahan hidup, setiap pagi Bapak hanya meletakkan sebuah helm di depan gerbang SMA Negeri 1 Negara dan Sekolah Lainnya, Anak-anak sekolah yang lewat melemparkan uang receh ke dalamnya. Entah karena iba atau karena takut melihat mata Bapak yang merah akibat kehidupan yang salah. 

Dari uang itulah kadang Bapak membeli sebungkus nasi demi hidup. Sisanya habis untuk hal-hal yang kini sangat Bapak sesali.

Itulah masa lalu Bapak.

Gelap.

Keras.

Namun, Tuhan masih memberi kesempatan kepada Bapak untuk berubah. Kesempatan itu datang ketika kamu hadir dalam hidup Bapak.

Sejak saat itu, Bapak berjanji pada diri sendiri bahwa apa pun yang pernah menghancurkan hidup Bapak tidak boleh menyentuh hidupmu.

Kalau hari ini Bapak bekerja tanpa mengenal lelah, bukan karena ingin menjadi orang kaya. Kalau Bapak terlihat keras, bukan karena tidak menyayangimu. Semua itu karena Bapak ingin memastikan kamu tidak pernah merasakan lapar, kehilangan, kesepian, dan kerasnya jalanan seperti yang pernah Bapak alami.

Bapak tidak pernah meminta balasan. Bahkan ucapan terima kasih pun tidak pernah Bapak tunggu. Melihatmu makan dengan kenyang, bersekolah, tertawa, dan tumbuh menjadi anak yang baik sudah menjadi hadiah terbesar dalam hidup Bapak.

Suatu hari nanti rambut Bapak akan memutih. Langkah Bapak akan melambat. Tangan yang dulu kuat menggendongmu akan mulai bergetar dimakan usia.

Kalau hari itu tiba, jangan sedih melihat Bapak menua. Peluk saja Bapak seperti dulu Bapak memelukmu.

Dan jika suatu hari nanti Bapak sudah tidak ada, jangan kenang Bapak sebagai orang yang pernah jatuh. Kenanglah Bapak sebagai seseorang yang berusaha bangkit, agar anaknya tidak perlu mengulang jalan hidup yang sama.

Karena sesungguhnya, warisan terbesar seorang bapak bukanlah harta, melainkan pelajaran hidup yang ia tinggalkan. Hiduplah lebih baik daripada Bapak. Itulah mimpi yang sejak hari pertama selalu Bapak jaga.

Semoga kelak, saat anakmu dewasa dan membaca tulisan ini, ia memahami bahwa di balik setiap pengorbanan seorang bapak, ada cinta yang tak pernah meminta balasan.Sekian dulu ya nak nanti Bapak sambung lagi karena banyak kisah kelam kehidupan  yang belum Bapak ungkapkan.

Bagikan:
Berita Terkait