PUBLIKA TANJUNG SELOR –Membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain ternyata bisa menjadi salah satu penyebab seseorang sulit merasa cukup.
Pesan tersebut disampaikan Pdt. Oktovianthinno ESRWA, RO, S.Th, dari Gereja GPSI El Bethel Tanjung Selor, dalam renungan Minggu, 30 Agustus 2026.
Mengangkat tema “Pilihan Anda: Membandingkan atau Merasa Cukup”, renungan ini berlandaskan firman Tuhan dalam Pengkhotbah 6:9.
“Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Pdt. Oktovianthinno mengingatkan, langkah pertama untuk belajar merasa cukup adalah berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Menurutnya, kebiasaan membandingkan sering dilakukan tanpa disadari. Saat melihat rumah orang lain yang lebih bagus, kendaraan yang lebih mewah, penampilan yang lebih menarik atau keberhasilan orang lain, seseorang bisa mulai merasa kehidupannya kurang.
Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan frustrasi dan membuat seseorang terus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
“Anda harus menghentikannya!” menjadi salah satu penekanan dalam renungan tersebut. Selain berhenti membandingkan diri, umat juga diajak belajar mengagumi tanpa harus memiliki.
Keberhasilan atau kepunyaan orang lain tidak harus menjadi alasan untuk iri. Sebaliknya, seseorang dapat belajar ikut bersukacita ketika orang lain memperoleh sesuatu yang baik.
Ada satu prinsip yang ditekankan dalam renungan tersebut. Kita tidak harus memiliki sesuatu untuk dapat menikmatinya.
Sebagai contoh, seseorang yang senang berlibur ke pegunungan tidak harus membeli rumah atau kabin di sana. Menyewa atau meminjam tempat tersebut ketika ingin berlibur sudah cukup untuk menikmati suasananya.
Dengan demikian, memiliki bukanlah satu-satunya cara untuk menikmati sesuatu. Renungan juga mengingatkan tentang bahaya keinginan yang tidak terkendali.
Keluaran 20:17 mengingatkan umat untuk tidak mengingini apa pun yang menjadi milik sesama.
Keinginan pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Bahkan, keinginan dapat menjadi dorongan untuk melakukan hal-hal baik.
Seseorang membutuhkan keinginan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus, lebih mengasihi, lebih murah hati dan menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, persoalan muncul ketika keinginan tersebut tidak lagi dapat dikendalikan.
Seseorang mulai membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa harus memiliki lebih banyak. Pada titik itu, keinginan dapat berubah menjadi iri hati dan keinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan menjadi bagiannya.
Renungan tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang begitu terikat pada sebuah benda atau kepemilikan hingga tidak sanggup melepaskannya.
Jika sesuatu yang dimiliki justru tidak bisa dilepaskan ketika Tuhan meminta, maka bukan lagi manusia yang menguasai benda tersebut.
Benda itulah yang telah menguasai manusia Bukan Soal Berapa Banyak yang Dimiliki, Melalui Pengkhotbah 6:5-9, umat diajak memahami bahwa banyaknya kepemilikan tidak otomatis membuat manusia merasa puas.
Karena itu, kehidupan yang penuh rasa cukup tidak dibangun dengan terus mengejar apa yang dimiliki orang lain.
Sebaliknya, rasa cukup tumbuh ketika seseorang mampu mensyukuri apa yang dimilikinya, ikut bersukacita atas berkat orang lain dan mengarahkan keinginannya kepada hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.
“Ketika Anda membandingkan diri, hal itu dapat membawa Anda kepada keinginan yang tidak terkendali. Dan ketika Anda terus mengingini apa yang dimiliki orang lain, Anda tidak akan pernah merasa cukup.
Bagaimana mengubah cara pandang terhadap barang-barang yang dimiliki sehingga dapat ikut bersukacita atas apa yang dimiliki orang lain?
Apa yang Allah ingin penuhi dalam kehidupan selain berbagai kepemilikan, Keinginan seperti apa yang Allah ingin tumbuhkan dan berikan dalam kehidupan orang percaya.bBacaan Alkitab Setahun: Mazmur 126-128; 1 Korintus 10:19-33.
Reporter: Made Wahyu Rahadia





