TANJUNG SELOR,—Di balik gemerlap berita yang setiap hari dikonsumsi publik, ada satu pertanyaan tajam yang kini menghantui dunia jurnalistik: masihkah wartawan berani berdiri tegak, atau justru mulai tunduk pada tekanan?
Seruan wartawan jangan jadi pengecut bukan sekadar slogan keras ini alarm keras bagi profesi yang seharusnya menjadi garda terdepan kebenaran.
Bli Made Dari Media Publika, Realitas di lapangan tak selalu ramah. Tekanan bisa datang dari kekuasaan, kepentingan bisnis, bahkan ancaman langsung. Tapi di titik itulah integritas diuji. Wartawan sejati tidak lahir dari zona nyaman, melainkan dari keberanian menembus risiko demi fakta.
Tanggung jawab seorang jurnalis tidak berhenti pada menulis berita. Ia wajib memastikan setiap informasi telah melalui proses konfirmasi dan verifikasi yang ketat. Menghindari narasumber karena takut ditolak atau ditekan? Itu bukan sikap profesional itu awal dari runtuhnya kredibilitas.
Lebih jauh, mental pengemis dan pengeluh menjadi racun diam-diam dalam profesi ini. Ketika wartawan mulai mencari keuntungan pribadi, mengeluh atas tekanan, atau menjadikan profesi sebagai alat kepentingan sempit, maka saat itu pula marwah jurnalistik mulai terkikis.
Wartawan bukan pencari belas kasihan. Wartawan adalah pencari kebenaran. Di medan yang sering kali keras, sikap cengeng tidak punya tempat. Tantangan adalah bagian dari tugas, bukan alasan untuk mundur.
Ketika dihadapkan pada intimidasi atau upaya pembungkaman, justru di situlah keberanian harus muncul ke permukaan. Kebebasan pers tidak diwariskan begitu saja ia dijaga, diperjuangkan, dan kadang harus dipertaruhkan.
Pada akhirnya, pesan ini sederhana namun mengguncang kejujuran dan keberanian bukan pilihan, melainkan harga mati. Tanpa itu, wartawan kehilangan arah. Tanpa itu, demokrasi kehilangan penjaganya.
Dan jika wartawan mulai takut, maka yang paling berbahaya bukan hanya berita yang hilang tetapi kebenaran yang sengaja dikubur dalam diam. (MD)





