Perkelahian Peserta Seminar Pelatihan Pupuk Kompos dan Budidaya Kepiting Soka di SMKN 1 Tarakan

Sabtu, 20 Desember 2025

TARAKAN-Pada hari Sabtu, tanggal 20 Desember 2025, sekira pukul 08.00 Wita, telah terjadi insiden perkelahian antar peserta seminar pelatihan pupuk kompos dan budidaya kepiting Soka di SMKN 1 Tarakan. Kejadian ini melibatkan dua kelompok yang diduga berasal dari suku yang berbeda, yakni Suku Tidung dan Suku Bugis. Kejadian tersebut segera mendapat penanganan dari pihak kepolisian dan menjadi perhatian serius dari Kabid Humas Polda Kaltara, Kombes Pol Budi Rachmat S.I.K., M.Si., yang memberikan keterangan resmi kepada media Publika.

Korban pertama, HI (32 tahun), yang merupakan panitia seminar sekaligus bertugas dalam pelaksanaan pengabsenan peserta seminar, menceritakan bahwa pada pukul 08.00 Wita, ia tengah melakukan absensi kepada peserta. Saat itu, empat orang yang diduga warga Suku Tidung datang untuk pengabsenan, namun prosesnya berjalan lambat. Karena lama menunggu, HI memberikan teguran agar proses dapat dipercepat, dengan kalimat “Tidak bisa cepat kah, karena masih banyak yang antri di belakang.” Teguran tersebut ternyata menimbulkan ketidakpuasan dari KN yang tengah menjalani pengabsenan.

Tidak lama kemudian, ketegangan mulai mereda setelah tiga orang pelaku berinisiatif melerai dan mengeluarkan KN beserta rekannya dari tempat pengabsenan. Namun, sekitar pukul 08.30 Wita, KN datang kembali bersama rombongan yang merupakan kelompok Ormas Lembaga Yayasan Adat Tidung Dayak Bersatu dan langsung melakukan pemukulan terhadap HI. Akibat kejadian tersebut, HI melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian setempat.

Baca juga  Syarifuddin SE, Calon Kepala Desa Gunung Sari: Mewujudkan Desa Maju, Mandiri, Sejahtera, dan Bermartabat

Sementara itu, menurut keterangan dari pihak korban kedua,  RN (34 tahun), yang merupakan anggota Ormas Lembaga Yayasan Adat Tidung Dayak Bersatu (kelompok Suku Tidung), awal mula permasalahan ini karena HI membentak orang tua dari KN dan NI yang sedang dalam antrean pengabsenan karena dianggap lambat. Perbuatan tersebut dianggap tidak pantas sehingga memunculkan rasa tidak terima dari KN.

Tidak hanya itu, kelompok RN juga mengalami tekanan dari tiga orang yang mengaku sebagai sepupu HI, yang menarik kelompoknya keluar dari lokasi pengabsenan. Hal ini kemudian berujung pada pemukulan terhadap kelompok tersebut dan tantangan dari kelompok HI agar mereka datang kembali ke SMKN 1 Tarakan untuk menyelesaikan permasalahan.

Menanggapi kejadian tersebut, Kapolsek Tarakan Barat bersama piket penjagaan dan fungsi Polsek segera mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pihak kepolisian mengambil langkah konkret dengan mengamankan para saksi dan korban agar situasi dapat terkendali. Pihak Polsek pun mengarahkan pelaporan masalah tersebut ke Polres Tarakan guna penyelesaian secara hukum.

Piket Pamapta Polres Tarakan juga menerima laporan pengaduan dari kedua belah pihak yang terlibat dalam keributan ini. Karena potensi bentrok fisik yang cukup besar, pihak Polres Tarakan memberikan kemudahan dalam pembuatan laporan pengaduan dengan cara mendatangi kediaman masing-masing pelapor agar situasi tidak semakin memanas.

Langkah ini terbukti efektif dalam meredam keributan yang hampir terjadi di jalan umum setelah insiden. Saat ini, Polres Tarakan sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengumpulkan bukti dan keterangan guna proses hukum yang selanjutnya.

Baca juga  DKISP Gelar Seminar Akhir Survei Diseminasi Informasi, Tingkatkan Transparansi dan Partisipasi Publik untuk Good Governance

Perkembangan terkini hingga pukul 13.24 Wita, situasi di Markas Komando (Mako) Polres Tarakan dilaporkan dalam keadaan kondusif. Tidak hanya itu, untuk memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga di wilayah tersebut, Polda Kaltara mengirim bantuan personil back up dari Satuan Brigade Mobil Daerah sebanyak 94 personil.

Kehadiran pasukan Brimob ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat sekaligus mencegah potensi gangguan keamanan yang lebih besar, mengingat masih adanya kemungkinan bentrokan susulan antara kelompok yang bertikai.

Kejadian keributan yang melibatkan peserta dari suku yang berbeda ini menjadi sebuah peringatan penting bagi semua pihak untuk terus menjaga kerukunan antar suku dan kelompok di wilayah Kalimantan Utara yang dikenal memiliki keberagaman etnis yang tinggi.

Suku Tidung dan Suku Bugis, yang masing-masing memiliki budaya dan tradisi kuat, seharusnya dapat tetap menjalin hubungan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Insiden yang terjadi di SMKN 1 Tarakan ini hendaknya menjadi momentum bagi pemerintah daerah, tokoh adat, dan aparat keamanan untuk semakin mempererat dialog dan koordinasi antar komunitas agar konflik serupa dapat dicegah.

Kabid Humas Polda Kaltara, Kombes Pol Budi Rachmat, menekankan pentingnya peran humas dalam memberikan informasi yang akurat, transparan, dan cepat kepada masyarakat serta media terkait kejadian tersebut. Humas berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara polisi dan publik sehingga tidak terjadi misinformasi yang bisa memicu kegaduhan sosial yang lebih besar.

Baca juga  Launching Pamapta Polres Nunukan

Dengan kehadiran petugas humas yang responsif, masyarakat dan media mendapatkan pemahaman yang jelas tentang kronologis kejadian, langkah-langkah penegakan hukum yang dilakukan, dan upaya-upaya yang tengah berlangsung untuk mengembalikan situasi menjadi kondusif.

Polda Kaltara dan Polres Tarakan terus menindaklanjuti kasus ini sesuai prosedur hukum yang berlaku dengan mengedepankan asas praduga tidak bersalah. Selain itu, aparat kepolisian juga mengoptimalkan pendekatan persuasif dan restoratif justice agar perselisihan dapat diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.

Dukungan dari masyarakat, tokoh adat, dan organisasi kemasyarakatan diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan konflik berlatar belakang suku ini, sehingga kehidupan sosial di wilayah ini tetap kondusif dan produktif.

Insiden perkelahian antar peserta seminar pelatihan pupuk kompos dan budidaya kepiting di SMKN 1 Tarakan mengingatkan kita bahwa keberagaman, meskipun menjadi kekayaan sosial, juga memerlukan pengelolaan hubungan yang bijaksana dan berkesinambungan. Aparat kepolisian, melalui kinerja yang cepat dan serius, menunjukkan komitmen untuk menjaga keamanan serta menjamin penegakan hukum yang adil bagi semua pihak.

Penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun tali persaudaraan dan kerukunan agar kejadian serupa tidak terulang dan semangat kebersamaan tetap terjaga demi masa depan yang lebih damai dan sejahtera di Kalimantan Utara. (***)

Bagikan:
Berita Terkait