PUBLIKA JEMBRANA BALI – Kegagalan tidak membuat NI PUTU RATNACIKA DIVATA RESMANA menyerah mengejar cita-citanya menjadi anggota Polri. Setelah gagal pada seleksi Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun 2025 di Polda Bali, putri asal Desa Pergung, Kabupaten Jembrana, Bali itu kembali mendaftar pada 2026 dan berhasil menorehkan prestasi membanggakan.
Lulusan SMA Krida Nusantara tersebut dinyatakan lulus sebagai Taruni Akpol Tahun Anggaran 2026 di Akademi Kepolisian Semarang, Jawa Tengah. Tak hanya itu, Putu berhasil meraih peringkat ketiga dari 30 taruni yang diterima secara nasional.
Kepada Media Publika, Putu mengungkapkan rasa syukur atas pencapaiannya. Ia menyampaikan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para leluhur, kedua orang tuanya, teman-teman, serta jajaran Polda Bali yang telah mendukung perjalanan hingga berhasil lolos menjadi taruni Akpol.
“Terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para leluhur, orang tua, teman-teman, dan terutama Polda Bali. Karena Polri untuk masyarakat.
Untuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat mengejar mimpi dan jangan pernah putus asa,” ujar Putu.

Keberhasilan Putu menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan. Dengan kerja keras, disiplin, dan tekad yang kuat, impian untuk mengenakan seragam kebanggaan Polri akhirnya berhasil diwujudkan.
Sebelumnya, Polda Bali mengirimkan delapan putra-putri terbaik untuk mengikuti seleksi tingkat pusat Akpol 2026 di Semarang. Delapan peserta tersebut terdiri atas tujuh calon taruna dan satu calon taruni setelah dinyatakan lulus seleksi tingkat Panitia Daerah (Panda) Polda Bali.
Sidang Terbuka Penentuan Kelulusan Akhir tingkat Panda dipimpin langsung oleh Wakapolda Bali, Brigjen Pol. I Made Astawa, S.I.K., dengan dihadiri pejabat utama Polda Bali, panitia seleksi, pengawas internal maupun eksternal, serta para peserta bersama orang tua dan wali.
Dalam arahannya, Wakapolda Bali menegaskan bahwa seluruh proses penerimaan Taruna dan Taruni Akpol dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsip BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis) serta clear and clean, sehingga seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama untuk lolos berdasarkan kemampuan, prestasi, dan hasil seleksi yang objektif.
Kisah Putu Ratnacika menjadi inspirasi bahwa kegigihan dan semangat pantang menyerah mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan yang membanggakan. (MD)





