BULUNGAN,—Setelah Sultan Bulungan Muhammad Kaharudin wafat pada tanggal 23 Juni 1889, maka sesuai dengan ketentuan negeri, telah dipilih menjadi penguasa Si Kian bergelar Datu Alam, putra almarhum Sultan Bulungan terdahulu, Amiril Muminin Kaharudin, yang berdasarkan keputusan tanggal 30 Desember 1881 No. 77 telah diakui sebagai penerus pemerintahan.
Dan mengingat bahwa Si Kian bergelar Datu Alam tersebut pada hari ini, tanggal 14 Desember tahun 1889, di hadapan saya Willem Broers, Residen Afdeling Selatan dan Timur Borneo, dengan khidmat telah mengucapkan sumpah dan di hadapan saya telah membubuhi cap serta menandatangani surat pernyataan tertulis yang dilampirkan pada akta ini.
Maka dengan ini Si Kian bergelar Datu Alam tersebut, oleh saya, dengan persetujuan lebih lanjut dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, atas nama dan mewakili Pemerintah Hindia Belanda, secara resmi disahkan dalam kedudukannya sebagai Sultan Bulungan, dengan nama dan gelar Muhammad Alimuddin, sebagai bukti yang mana kepadanya diberikan akta ini beserta surat pernyataan tertulis yang telah dibuat dan ditandatangani olehnya sebagaimana tersebut di atas.
Ketika Muhammad Khalifatul Adil bin Maulana meninggal setelah tiga tahun menjadi sultan “penjaga” Bulungan-Tarakan pada tahun 1875, putranya Datu Alam tidak dapat menggantikannya karena masih terlalu muda. Mula-mula pemerintahan dijalankan oleh wali, kemudian kesultanan berpindah kepada pihak lain, hingga akhirnya jatuh kepada Ali Kahar bergelar Sultan Kaharuddin II pada tahun 1875 itu juga.
Ketika Kaharuddin meninggal pada tahun 1889, Datu Alam menuntut apa yang menurutnya merupakan haknya. Belanda campur tangan dan memberikan kesultanan itu kepada saingannya, yang menurut mereka akan lebih mudah dikendalikan.
Datu Alam merasa bahwa sultan ( Sultan Muhammad Alimuddin ) tersebut hanyalah “boneka Belanda”. Ketika berada di Tarakan, Datu Alam mencoba membunuh controleur Belanda karena dukungannya terhadap rivalnya, dan akibatnya ia ditangkap oleh Belanda.
Adik-adik Datu Alam, yaitu Datu Alun dan Datu Basteri, beserta para pendukung mereka melarikan diri ke Serudong dan sisi utara Pulau Sebatik, dekat basis pendukung mereka di Kalabakan dan, sebagaimana diberitakan pers Inggris setempat, “dengan membawa mahkota Sultan Bulungan Dikutif dari Sejarah Tidung.(MD)





