Yayasan Kemala Bhayangkari Kaltara Peduli, Tangis Haru di Rumah Sederhana Tanjung Palas

Sabtu, 21 Februari 2026

BULUNGAN – Langkah rombongan Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Utara terhenti di depan sebuah rumah kecil berdinding papan di wilayah Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.

 Rumah itu tampak rapuh dimakan usia, beratapkan seng yang mulai berkarat, dengan lantai sederhana yang jauh dari kata layak.

Di dalam rumah itu, seorang ibu memeluk dua anaknya yang tidak dapat melihat indahnya dunia. Dua anak lainnya duduk lemah dengan tubuh kurus akibat kekurangan gizi. Tatapan kosong dan wajah pucat mereka seakan menjadi saksi betapa berat kehidupan yang harus dijalani setiap hari.

Ketua Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Utara, Ny. Sari Djati Wiyoto Abadhy, bersama para pengurus hadir membawa bantuan sembako, kebutuhan nutrisi tambahan, serta tali asih. Namun yang lebih terasa adalah kehangatan dan empati yang mereka berikan.

Sang ibu tak mampu menyembunyikan air mata saat menceritakan perjuangannya. Dengan penghasilan yang tak menentu, ia harus membagi perhatian, tenaga, dan kasih sayang untuk keempat anaknya, termasuk dua yang tuna netra dan dua lainnya yang membutuhkan asupan gizi lebih baik.

“Kadang kami hanya makan seadanya. Yang penting anak-anak bisa makan,” ucapnya lirih, suaranya bergetar.

Anak-anak tuna netra itu memegang tangan para pengurus Bhayangkari dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka tak bisa melihat siapa yang datang, namun mereka bisa merasakan sentuhan tulus yang menyapa. Suasana pun berubah menjadi haru. Beberapa pengurus tampak menunduk, menahan air mata.

Kegiatan Yayasan Kemala Bhayangkari Peduli ini bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi menjadi penguat hati bagi keluarga tersebut. Di tengah keterbatasan dan kesunyian perjuangan, kehadiran Bhayangkari menjadi cahaya kecil yang memberi harapan baru.

Bagi Yayasan Kemala Bhayangkari, kepedulian terhadap warga sekitar adalah panggilan hati. Bahwa di balik seragam dan tugas besar institusi, ada empati yang terus hidup untuk mereka yang membutuhkan.

Di rumah sederhana itu, hari itu bukan hanya tentang bantuan. Itu tentang pelukan hangat, tentang doa yang terucap pelan, dan tentang harapan yang kembali dinyalakan di tengah gelapnya ujian kehidupan. (Bli Made)

Bagikan:
Berita Terkait