TANJUNG SELOR – Polemik penyaluran jagung di wilayah Bulungan mulai mencuat ke publik. Sejumlah peternak mengaku kesulitan membeli jagung di gudang Bulog Bulungan, meski informasi yang beredar menyebutkan stok masih tersedia.
Kepala Cabang Bulog Bulungan, Oktavianur, menjelaskan bahwa penjualan jagung untuk sementara waktu hanya diperuntukkan bagi mitra peternak yang telah terdaftar, sesuai arahan dari pusat melalui Perum Bulog.
“Untuk sementara, penjualan jagung diarahkan kepada mitra peternak yang sudah terdaftar. Nanti kami akan meminta data ke dinas terkait, nama-nama peternak untuk diajukan sebagai pembeli jagungnya,” ujarnya.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk penyesuaian mekanisme distribusi agar tepat sasaran. Namun, kebijakan ini justru memunculkan pertanyaan di kalangan peternak lokal.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Utara, Heri Rudiyono, menyatakan pihaknya akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Bulog. Ia menekankan pentingnya data kebutuhan riil peternak setiap bulan.
“Ia komunikasi dulu dengan Bulog. Yang perlu disampaikan datanya ke Dinas Pertanian adalah jumlah pembelian para peternak atau asosiasi peternak per bulan,” jelasnya.
Ia juga merencanakan pertemuan dengan para peternak unggas, baik ayam petelur maupun ayam potong, dalam rangka silaturahmi dan diskusi. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi forum untuk menyerap aspirasi terkait distribusi jagung pakan.
“Ia hanya membantu konsumsi buka puasa saja. Apakah ada yang mau hadir? Saat ini saya masih mengumpulkan datanya melalui Kadis kabupaten/kota,” tambahnya.
Di sisi lain, suara kekecewaan datang dari Ridwan, seorang peternak asal Tanjung Selor. Ia mempertanyakan prosedur pembelian yang dinilai berbelit.
“Ribetnya kami para peternak membeli jagung di Bulog Bulungan. Apa pemerintah tidak bisa mengakomodir kami untuk beli jagung? Padahal di Kaltara, apalagi Bulungan, info yang saya dapat ada 22 ton jagung di Bulog Bulungan. Pemda Bulungan ke mana?” tegasnya.
Menurutnya, kebutuhan pakan merupakan hal vital dalam usaha peternakan. Keterlambatan distribusi atau sulitnya akses pembelian dapat berdampak langsung pada biaya produksi dan harga jual di pasar.
Persoalan ini menjadi ujian koordinasi antara Bulog dan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan pakan ternak. Di tengah upaya menjaga ketahanan pangan daerah, para peternak berharap ada solusi konkret dan prosedur yang lebih sederhana agar mereka dapat memperoleh jagung tanpa hambatan administratif yang berlebihan.
Masyarakat kini menunggu langkah cepat pemerintah daerah untuk menjembatani kepentingan peternak dan mekanisme distribusi Bulog, agar stok yang ada benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha lokal. (***)





