Dari Anak Pembuat Onar hingga Menjadi Wartawan , Perjalanan Hidup Seorang Ayah yang Penuh Luka dan Pelajaran

Rabu, 29 Juli 2026

TANJUNG SELOR—Nak, mungkin selama ini kamu hanya mengenal bapak sebagai sosok yang keras atau sederhana. Namun di balik semua itu, ada perjalanan hidup yang panjang, penuh kesalahan, perjuangan, dan pelajaran yang membentuk bapak menjadi seperti sekarang.

Sekitar tahun 1988, saat duduk di bangku kelas 4 SD, bapak pindah dari Bali ke Sulawesi Selatan. Bapak tinggal bersama almarhum kakek, Ida Bagus Kade Oka, dan paman almarhum Ida Bagus Suweda, seorang transmigran asal Bali yang telah menetap sejak tahun 1979 di daerah Desa Jalajja Mambotu, Luwu timur  Sulawesi Selatan.

Hari pertama masuk sekolah menjadi awal kenakalan bapak. Baru melihat-lihat suasana sekolah, bapak sudah berkelahi dengan anak lokal. Akibatnya, sesampainya di rumah, paman yang merupakan pensiunan TNI langsung menghajar bapak karena membuat masalah.

Namun kenakalan bapak tidak berhenti di situ.Suatu ketika, bapak mencampurkan racun Furadan ke dalam nasi dan memberikannya kepada ayam-ayam milik tetangga. Ratusan ekor ayam mati. Tetangga pun datang mengadu. Lagi-lagi bapak menerima hukuman keras dari paman. Disiplin ala seorang mantan prajurit benar-benar bapak rasakan.

Meski begitu, bapak juga belajar bekerja sejak kecil. Sepulang sekolah, bapak berjualan es lilin di persawahan Desa Jalajja. Satu aturan yang selalu bapak pegang saat itu, tidak boleh ada pembeli yang berutang.

Tahun 1990, setelah lulus SD, bapak bersama kakek kembali ke Bali. Selanjutnya bapak dititipkan di Griya Ketugtug, Negara, bersama bibi Ida Ayu Kade Tayok. Bapak melanjutkan pendidikan di SMP Swastika Karya, daerah Satria. 

Masa remaja bapak penuh cerita. Pernah merasakan cinta monyet dengan seorang gadis berinisial KI yang merupakan putri Kapolres Jembrana saat itu, Letkol Ateng Soemantri. Tubuh bapak kurus, sering berkelahi di sekolah, tetapi di sisi lain bapak juga pernah meraih juara pertama penataran P4.

Memasuki usia dewasa, bapak bekerja sebagai sopir pengangkut ikan tuna, kerapu, dan hasil laut lainnya dari Singaraja menuju pemasok di kawasan Benoa. Hampir dua tahun bapak menjalani pekerjaan itu. 

Seusai bekerja, bapak sering berkumpul bersama teman-teman di Warung Patokan, Ambengan. Karena sering datang ke warung yang dijaga seorang perempuan cantik, warga setempat diduga merasa cemburu.

 Suatu malam bapak dikeroyok, bahkan dimasukkan ke dalam sarung dan hampir dibuang dari jembatan Ambengan. Beruntung seorang teman anggota TNI bernama Manik melihat mobil angkut ikan milik bapak. Ia segera turun, melerai, dan menyelamatkan bapak dari amukan massa.

Perjalanan hidup terus berlanjut. Bapak kemudian mengikuti kursus Disc Jockey di DJ Top Ten School, Jalan Teuku Umar, Denpasar. Saat itu peralatan DJ masih menggunakan piringan hitam, jauh sebelum era CDJ seperti sekarang. Bapak beberapa kali mendapat kesempatan belajar dan tampil bersama sejumlah DJ senior di klub malam M-Bargo Kuta untuk mengasah kemampuan.

Pada tahun 2002, paman Ida Bagus Widianta yang bekerja sebagai Manajer Inhutani Tarakan menelepon dan mengajak bapak merantau ke Kalimantan Utara  agar hidup bapak lebih terarah. Bersama kakak sepupu almarhum Ida Ayu Emy Relawati dan suaminya Syamsuddin, bapak berangkat menggunakan kapal dari Surabaya menuju Berau.

Dari Berau, bapak melanjutkan perjalanan darat menuju Tanjung Selor. Di sanalah bapak bertemu anggota Polri waktu itu Pangkat Serka  I Made Gunadi yang kemudian mengajak bapak bekerja di Kabupaten Malinau. Bapak diterima di PT Karya Cipta Kridatama sebagai checker, lalu beberapa kali ditempatkan di Batulindung  sebagai fuelman.

Di lokasi itu bapak juga mengenal Roger Marpaung yang sekarang menjadi Kapolsek Tanjung Palas Barat, anggota Polri yang bertugas di kawasan tersebut.Saat bekerja di perusahaan tambang, penghasilan bapak tergolong besar untuk ukuran waktu itu, sekitar Rp5 juta per bulan dan bisa mencapai Rp6 juta jika banyak lembur dan hari libur. Setelah sekitar delapan bulan bekerja, kontrak perusahaan berakhir. Bapak menerima pesangon beserta gaji terakhir sekitar Rp17 juta sebelum kembali ke Bali.

Tahun 2003, bapak mengikuti kursus jurnalistik di Jakarta selama tiga bulan. Sejak saat itu ketertarikan bapak terhadap dunia jurnalistik semakin besar. Pada awal tahun 2005, bapak ikut melakukan peliputan berbagai peristiwa di sejumlah daerah, termasuk Pengeboman pasar di Pusat Kota Tentena Poso 2005 terjadi pada tanggal 28 Mei 2005 ledakan bom bunuh diri  yang Menewakan 22 orang dan melukai setidaknya 40 lainnya. Serta liputan di wilayah Ampana, Pagimana, Bunta,Bungku, Malinau, dan daerah lainnya.

Banyak teman media di Bulungan dahulu hanya mengenal bapak sebagai peracik Minuman dan penjual arak bali terkadang sebagai intel. Mereka tidak tahu bagaimana panjangnya perjalanan hidup yang telah bapak lalui, dari anak yang penuh kenakalan, pekerja keras, perantau, hingga akhirnya menekuni dunia jurnalistik.

Nak, bapak tidak pernah bangga dengan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Justru semua itu menjadi pelajaran berharga bahwa setiap orang bisa berubah jika mau belajar dari kegagalan. 

Bapak berharap kamu tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Jadikan kisah hidup bapak sebagai pengingat bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan, selama kita memiliki kemauan untuk memperbaiki diri dan terus melangkah menjadi pribadi yang lebih baik.

Kisah Jurnalis : I Made Wahyu Rahadia 

Bagikan:
Berita Terkait