PUBLIKA TANJUNG SELOR – Pernahkah Anda bertanya, “Tuhan, mengapa semua ini terjadi kepada saya. Minggu 6-9-2026.Pagi.
Saat masalah datang bertubi-tubi, kehilangan terjadi, rencana berantakan, atau hidup terasa berada di titik paling sulit, pertanyaan itu sangat manusiawi, Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin jauh lebih penting untuk diajukan.
Pesan tersebut menjadi inti renungan yang disampaikan Pdt. Oktovianthinno ESRWA, RO, S.Th., dari Gereja GPSI El Bethel Tanjung Selor, dengan tema “Bagaimana Allah Menggunakan Masalah untuk Menolong Anda Bertumbuh.
Mengacu pada 2 Korintus 3:18, jemaat diingatkan bahwa kehidupan orang percaya merupakan sebuah proses untuk terus diubah menjadi semakin serupa dengan Kristus.
“Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
Tidak semua masalah datang untuk menghancurkan kita. Sebagian masalah justru dipakai Tuhan untuk membentuk kita.
Setiap situasi dalam hidup dapat membawa seseorang menjadi lebih pahit atau lebih baik. Yang menentukan bukan semata-mata masalahnya, tetapi bagaimana kita meresponsnya.
Ketika menghadapi persoalan, manusia sering kali hanya melihat rasa sakitnya, Padahal, di balik keadaan yang tidak menyenangkan, bisa saja ada proses pertumbuhan yang sedang Tuhan kerjakan, Allah tidak menjanjikan perjalanan hidup tanpa masalah, Sebaliknya, melalui berbagai keadaan, karakter seseorang justru ditempa.
Sebab salah satu tujuan Allah adalah agar manusia tidak hanya bertambah usia, tetapi juga bertumbuh secara rohani dan semakin menyerupai Yesus Kristus. Hal itu ditegaskan dalam Filipi 2:5 agar manusia memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus.
Galatia 5:22-23 menyebut buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Menariknya, semua karakter tersebut sering kali justru dibentuk melalui keadaan yang berlawanan dengan kenyamanan.
Kasih tidak selalu diajarkan melalui orang-orang yang menyenangkan. Terkadang kita dipertemukan dengan orang yang sulit dipahami, sulit diterima, bahkan mungkin pernah menyakiti hati.
Di situlah kita belajar bahwa kasih bukan hanya tentang mencintai orang yang baik kepada kita, tetapi juga belajar mengasihi tanpa syarat Sukacita juga tidak selalu lahir ketika semua keinginan terpenuhi.
Ada kalanya Tuhan mengizinkan kesulitan dan dukacita agar kita memahami bahwa sumber sukacita sejati bukanlah keadaan, melainkan Tuhan sendiri, Begitu pula dengan damai sejahtera Damai yang sesungguhnya tidak hanya diuji ketika hidup tenang.
Damai diuji ketika masalah datang.
Ketika keluarga menghadapi persoalan.
Ketika pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan.
Ketika masa depan terasa tidak pasti.
Ketika semuanya tampak berantakan, tetapi kita tetap belajar berkata, “Saya percaya Tuhan masih memegang hidup saya, Kemudian ada kesabaran, Karakter ini tidak tumbuh hanya karena seseorang menginginkannya.
Kesabaran ditempa melalui penantian, kegagalan, kemacetan, ruang tunggu, proses panjang dan berbagai keadaan yang membuat seseorang ingin menyerah, Karena itu, menjadi serupa dengan Kristus bukanlah proses instan.
Roh Allah terus bekerja dalam diri setiap orang percaya untuk memperbarui hati, membentuk karakter dan membawa manusia semakin dekat kepada kehendak-Nya.
Maka ketika masalah datang, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita. Bisa jadi justru di tengah masalah itulah Tuhan sedang bekerja paling dalam.
Di balik air mata, ada keteguhan yang sedang dibangun.
Di balik penantian, ada kesabaran yang sedang ditempa.
Di balik luka, ada pengampunan yang sedang diajarkan.
Dan di tengah kekacauan, ada iman yang sedang diperkuat. Karena itu, renungan ini mengajak setiap orang untuk mengubah cara memandang masalah.
“Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk dalam diri saya melalui semua ini, Sebab keadaan mungkin tidak selalu bisa kita kendalikan Namun, respons kita tetap menjadi pilihan.
Dan bisa jadi, masalah yang hari ini membuat kita menangis justru sedang dipakai Tuhan untuk menjadikan kita pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, lebih rendah hati dan semakin serupa dengan Kristus.
Jangan hanya meminta Tuhan menghilangkan masalah. Mintalah agar Tuhan menunjukkan apa yang harus kita pelajari melalui masalah tersebut.
Sebab terkadang, Tuhan tidak langsung mengubah keadaan Dia terlebih dahulu mengubah kita. (MD)





