PUBLIKA TANJUNG SELOR –Ratusan umat Hindu di Kabupaten Bulungan dan sekitarnya memadati Pura Agung Jagat Benuanta, Tanjung Selor, untuk melaksanakan Upacara Piodalan atau Pujawali ke-18. Upacara sakral yang jatuh pada hari suci Purnama Kelima, Minggu (25/10/2026), berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kedamaian.
Sejak pagi hari, suasana pura telah dipenuhi oleh krama (warga) Hindu yang mengenakan pakaian adat persembahyangan didominasi warna putih dan kuning. Mereka membawa berbagai sarana upakara, mulai dari banten gebogan yang menjulang indah hingga berbagai sesajen ritual lainnya sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan berkah dan kesejahteraan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ketua PHDI Kaltara, Dr. Jero Budi menyampaikan bahwa peringatan ke-18 tahun berdirinya Pura Agung Jagat Benuanta ini mengambil momentum suci Purnama Kelima sebagai media pencerahan spiritual umat. “Pujawali bukan sekadar rutinitas ritual ritualistik tahunan, melainkan momentum penting untuk melakukan spiritual detox, membersihkan pikiran dari kepenatan modernitas, sekaligus mengukuhkan kembali nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Salah satu prosesi yang paling memikat perhatian adalah tari-tarian Rejang Dewa yang dibawakan anak anak Pasraman. Demikian juga ada ritual Me Purwa Daksina.
Dalam prosesi ini, para pemuka agama bersama umat berjalan beriringan mengitari area utama pura sebanyak tiga kali putaran searah jarum jam. Sembari mengusung pralingga (simbol suci stana Tuhan) dan umbul-umbul sakral, ritual ini memancarkan makna filosofis sebagai simbol penyelarasan diri manusia dengan hukum alam semesta (Rta), sekaligus memagari area suci dari segala energi negatif.
Tidak hanya dimensi spiritual, Pujawali kali ini juga menjadi cerminan nyata dari implementasi konsep Tri Hita Karana di era modern. Semangat gotong-royong atau ngayah yang ditunjukkan oleh generasi muda Hindu (Yowana) dalam mempersiapkan upacara menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi tetap kokoh di tengah gempuran arus digitalisasi.
Interaksi fisik yang hangat di antara krama Hindu selama upacara juga menjadi penyeimbang sosial yang sangat berharga di era serba virtual saat ini.

Upacara diakhiri dengan persembahyangan bersama, Dharma Wacana dan pemercikan tirta suci yang dipimpin oleh sulinggih/pinandita. Melalui Pujawali ke-18 ini, umat Hindu di Tanjung Selor berharap kedamaian, kerukunan antarumat beragama di Kalimantan Utara, serta kelestarian alam lingkungan dapat terus terjaga secara harmonis dan berkelanjutan. (Bli)





